Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Tuesday, 18 June 2019

Mencari penginapan melalui aplikasi ponsel

Ruang tamu dan meja makan Rumah Saldesha. (Joko Harismoyo)

Lebaran kedua, 6 Juni 2019, kami menginap di Yogyakarta. Karena rate hotel melambung tinggi, kami memesan penginapan melalui aplikasi Airbnb. Harga bersahabat dengan fasilitas mirip hotel.


Pemesanan kami lakukan jauh hari sebelumnya. Pada 9 Mei, kami sudah tidak dapat memilih hari untuk bermalam. Tinggal tanggal 6 Juni itu. Tapi, tak apa-apa daripada kami menginap di hotel. Hotel dengan kamar standar harganya Rp750.000 per kamar per malam.

Sementara di tempat kami, Rumah Saldesha di Krajan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman hanya kena charge sekitar US$50. Dengan nilai yang hampir sama, kami mendapat fasilitas jauh memadai. Tiga kamar ukuran besar, sekitar 4X5 meter. Dua kamar mempunyai 2 tempat tidur single, dan satu kamar tempat tidur tunggal ukuran besar.

Kamar tidur (Foto: Joko Harismoyo)
Fasilitas yang ada meliputi, tiap kamar memiliki kamar mandi dalam dengan air panas. Ruang tamu, ruang makan, kulkas, dispenser lengkap dengan kopi, teh, gula, selai roti serta saus bagi pecinta mie instant. Tentu, piring dan gelas tersedia. Kami bertujuh menginap di tempat tersebut. Pagi hari, kami mendapat roti tawar untuk ganjal perut. Tersedia Wi-Fi dengan kecepatan memadai. Televisi bisa dipakai menonton tv lokal (bukan tv kabel). Untung malam itu tidak ada siaran sepakbola sehingga tak berpengaruh he he hee.

Kalau dilihat soal fasilitas, tempat tersebut kami rekomendasikan. Namun sebaiknya, jika bermalam di sini, Anda mempunyai/menyewa kendaraan untuk mobilitas. Lokasi berada di dalam perumahan dan berjarak 14 km dari Jalan Malioboro atau 7 km dari Monumen Yogya Kembali.
Kami sendiri memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat istirahat. Pulang ke penginapan tinggal tidur. Urusan makan sudah kami selesaikan sebelum sampai ke rumah.

Pemilik penginapan, Sally, tinggal di rumah induk yang ada di sampingnya. Jadi, jangan berisik karena mengganggu tetangga. Orangnya ramah kok dan siap membantu sewaktu-waktu diperlukan.
Yang harus diingat, harga bisa berubah, tergantung sikon. Jika musim liburan, harga naik. Aplikasi untuk menyewa tempat menginap juga banyak. Anda bisa memilih aplikasi yang dirasakan aman dan nyaman.

Aplikasi booking tempat menginap bisa menjadi solusi di tengah hegemoni hotel yang kadang semena-mena menaikkan harga jika sedang peak session. *

Wednesday, 11 July 2018

Yuks Belajar dari Obyek Wisata di Bandung

Ayunan di The Lodge Maribaya, Lembang, Bandung. (Foto: Joko harismoyo) 

Tempat wisata di Bandung (yang saya kunjungi) cukup kreatif mengemas obyeknya sehingga bisa meraup pemasukan yang lumayan. Bisa dicontoh oleh tempat wisata di Magelang dengan kadar yang disesuaikan.


Sabtu lalu (7 Juli 2018), pagi hari, saya sudah tiba di Floating Market Lembang, Bandung Barat. Harga tiket masuk Rp20.000 per orang, Tiket tersebut bisa ditukar dengan segelas minuman. Lumayanlah.

Tiket masuk hanyalah titik awal untuk berkelana. Untuk menikmati berbagai tempat, pengunjung harus membayar lagi. Misalnya untuk naik perahu, kereta api mini, taman kelinci atau menyewa kimono di Osakaku. Trik bisnis di tempat ini biasa saja. Kurang menarik dibahas.

Yang menarik dibahas dan mungkin bisa ditiru oleh pelaku bisnis wisata di kota kecil semacam Magelang adalah cara mengelola The Lodge Maribaya, Lembang. Harga tiket masuk Rp30.000. Sama seperti di Floating Market, tiket bisa ditukarkan dengan segelas Milo. Heran, kenapa semua Milo ya? Jangan-jangan tempat wisata di sana disponsori oleh minuman coklat ini.

The Lodge mempunyai banyak fasilitas. Gak perlu dibahas satu-satu. Bikin capai dan ngulang-ulang. Baca sendiri di websitenya. Yang menarik bagi saya adalah spot foto. Ada Sky Tree (Rp15.000-Rp20.000), Zip Bike (Rp20.000), Mountain Swing atau ayunan (Rp20.000), Gantole (Rp20.000), Hot Air Baloon (Rp20.000), Hot Air Baloon Hydraulic (Rp30.000) dan   Sky Plane (Rp20.000).

Saya tidak sempat mencoba semua spot foto. Hanya bisa di Mountain Swing. Sebenarnya bukan saya, tapi anak, istri dan keponakan. Saya bertugas memotret he heee. Kenapa hanya satu spot? Karena sampai sana sudah nyaris tutup.

Setelah ngantre beberapa menit, sampailah giliran anak saya. Kamera pasti sudah siap. Pengunjung diizinkan memotret sendiri walau pihak The Lodge menyediakan fotografer khusus. Inilah "kecerdasan" The Lodge. Pengunjung tidak akan mendapatkan angle menarik untuk memotret. Entah terlihat ayunan lain atau atap gubug. Walau diedit melalui photoshop, tetap kurang dramatis seperti hasil pemotretan mereka. Dapat dipastikan pengunjung akan membeli foto dari The Lodge.

Harga per foto Rp10.000. Ini tidak dicetak loh. Hanya dibagi melalui aplikasi Share it. Karena fotografer memotret sekitar lima jepretan, rata-rata pengunjung membeli 1-3 foto. Jadi untuk satu spot foto mereka harus membayar tiket masuk plus foto. Menghabiskan Rp20.000 hingga Rp50.000 untuk satu spot foto. Bayangkan kalau setiap pengunjung berfoto di dua atau tiga spot. Lumayan kan pemasukannya?

Mengutip bayaran di spot foto juga dilakukan oleh tempat wisata di Bantul, Yogyakarta, baik di Bukit Panguk maupun Puncak Becici. Tarif per spot hanya Rp3000. Di Bukit Pecici malah sukarela. Tentu, spot fotonya "tak seindah" di The Lodge yang membutuhkan modal besar untuk membuatnya.

Lebaran 2017 saya berkunjung ke Gardu Pandang Silancur dan Mangli, Kaliangkrik, Magelang. Saya hanya dikutip tiket masuk. Tidak perlu membayar lagi untuk berfoto di beberapa spot. Sekarang saya tidak tahu, apakah ada tarif untuk berfoto di spot yang ada.

Dari kunjungan ke Bandung dan Yogyakarta, ada beberapa hal yang bisa diadaptasi oleh obyek wisata di Magelang.

1. Voucher minum. Tiket masuk bisa ditukarkan dengan segelas minuman. Andai bisa bekerja sama dengan pengusaha minuman lokal lebih baik. Misalnya, tiket bisa ditukar dengan semangku ronde atau wedang jahe. Cocok kan untuk daerah Kaliangkrik. Harga tentu harus disesuaikan.

2. Tiket Spot Foto. Untuk berfoto di spot yang ada diberlakukan sistem tiket. Pengunjung harus membayar dulu untuk berfoto ria. Untuk bisa mengutip bayaran, spot foto harus tampil apik. Jangan sekedarnya.

3. Fotografer. Sediakan fotografer yang siap membidik dengan hasil jepretan ciamik. Harus pakai kamera DSLR medium agar hasilnya Instagrammable. Untuk nebus foto mnesti bayar lagi. Gak perlu dicetak, cukup di share saja. Mungkin, tahap awal fotografer hanya melayani pada Sabtu, Minggu dan hari libur.

4. Warung. Sediakan warung makan yang cukup dengan sajian menu lokal. Khususnya pada hari libur.

Harga harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat setempat. baik tiket masuk, foto maupun harga makanannya. ***



Saturday, 23 June 2018

Riyaya Mangan Pecel Iku Uenak Tenan

Bukit Panguk

Tekan Yogyakarta, aku muter-muter lan kulineran, soko es gelatin, ngopi tekan mangan pecel nang kantin SGPC, seberang Fakultas Kedokteran Hewan, UGM.


Riyaya keloro (Setu, 16 Juni 2018), esuk uthuk-uthuk, aku wis tekan Stasiun Yogyakarta (mbiyen jenenge Stasiun Tugu). Sing njemput wis nunggu soko jam 03:00. Ananging, kereto telat. Kudune tekan jam 04:00 tapi mundur sekitar 45 menit. Ora opo-opo. Jenenge lebaran. Dibanding nyetir berjam-jam, telat semono menit ora masalah. Aku yo ora komplain. Opo maneh nyinyir nang medsos njaluk direktur KAI dipecat lan ganti menterine.

Spot foto nang Bukit Panguk
 Soko stasiun langsung nuju nang kebun buah Mangunan, Dlingo, Bantul. Kiro-kiro 25 km (tepate ndeloko Google Map wae). Jare anakku apik. Sayange ora iso ndelok sunrise mergo wis kawanan. Tekan Mangunan, berubah pikiran. Ora nang kebun buah, nanging nang Bukit Panguk. Tikete mlebu murah, mung Rp7.000. Ono diver room. Sopir iso ngaso lan ngopi gratis. Malah, ono kue kastengele sak toples.

Nang bukit iki akeh spot kanggo foto. Yen arep foto nang tiap spot mbayar Rp3.000. Lan kudu antre mergo saat iku rame banget. "Sayang pak, embune namung sekedhik. Biasane kathal loh," ngendikone ibuk sing jogo spot foto. Lebar foto-foto, pesen sarapan. Umume mung soto, bakso, karo mie instant. Cukup sarapan mie goreng lan milo anget. Soko Bukit Panguk, dilanjut nang Puncak Becici, Dlingo. Bedane, iki alas pinus. Dadi adem. Spot fotone ora bedo adoh karena nggon Bukit Panguk.
Rumah Marsupilami nang Puncak Becici 

Tujuan liyane yaiku es gelatin nang kafe Move On ing Jalan Prawirotaman. Untung sopire iki apil Jogja, luweh nglothok timbang Mbah Google. Bocah-bocah (2 anakku lan 2 ponakanku), pesen es gelatin. Aku nyicipi thok nggo tombo kangen. Aku pesen kopi Gayo, bojoku kopi Bali. Ternyata, mantep kopi Gayone. (Tanpa gulo lho ngombene).

Kemepyar ngopi, mampir nang RSU PKU Muhammadiyah. Tilik sedulur sing lagi operasi sikhil. Lebare, menuju gudeg Bu Amad nang Jl Kaliurang UGM. Tuku dibungkus kanggo oleh-oleh sedulur. Mangan awan nang SGPC. Mangan pecel ben ora bosen karo opor ayam terus. Pecel tanpo sego, tempe goreng karo jeruk panas. Sinambi mangan, ngrungokke lagu-lagu lawas soko live music. Lagune kok jadul-jadul opo mergo sing mangan akeh wong tuwone? Mbuh lah.

Kopi
Move On Cafe


Nang kantin ini, kamera SLR ku ora ono nang mejo. Wah lensane loro he. Akhire takon nang kasir. Alhamdulillah, disimpenke pegawaine. Slamet-slamet kameraku. Wareg wetenge, seneng atine. Banjur mulih Magelang. (kabeh foto: Joko Harismoyo)
Kantin SGPC

Pengunjung SGPC


Thursday, 28 December 2017

Dikira Klenteng, Ternyata Masjid

Ketika melewati 'klenteng' yang padat pengunjungnya, saya kepo dan berhenti. Lalu parkir di rest area di sebelahnya untuk sholat dhuhur.

Niat awalnya, saya akan sholat jamak takhir (dhuhur dan ashar) di Brebes, ketika ashar tiba. Niat itu lenyap seketika saat melihat 'klenteng' di Selaganggeng, Mrebet, Purbalingga, Jawa Tengah. Saya mengerem laju mobil dan menepi, menyaksikan 'klenteng' itu dikunjungi Muslim berhijab dan pria. Ternyata, itu sebuah masjid bernama Muhammad Cheng Hoo. Arsitektur bangunan mirip klenteng dengan warna merah menyala pada kayu dan kusen.

Tertulis Masjid Jami' PITI, Muhammad CHENG HOO. PITI singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Dibangun sejak 2005 dan terhenti pada 2006, lalu dilanjutkan lagi 2010 dan diresmikan 5 Juli 2011. Ternyata sudah lama dan saya baru satu kali melewati masjid ini. Jangan tanya kenapa pembangunan masjid sempat terhenti, karena saya juga tidak tahu.

Dilihat sekilas, masjid yang terletak di Jl. Raya Purbalingga-Bobotsari ini mirip klenteng. Bentuk atap, warna merah dan hijau sama persis dengan klenteng. Hanya, warna hijau mendominasi masjid, termasuk gentengnya. Sementara genteng klenteng umumnya berwarna merah karena dipercaya melambangkan kegembiraan, kebahagiaan, dan kesejahteraan.

Atribut yang umumnya ada di klenteng, seperti patung atau relief sepasang naga, harimau, kura-kura, burung hong, singa (ciok say / kilin) yang biasanya menghias atap, pilar-pilar penyangga, depan altar dan pintu tak terlihat di masjid ini. Di pintu masuk masjid terdapat tulisan China berwarna kuning emas. Warna Kuning (keemasan) adalah warna kemuliaan, kerajaan, kemakmuran dan kekayaan. Sayang, saya tidak mengerti bacaan maupun arti tulisan tersebut.

Karena penasaran dengan Masjid Cheng Hoo, saya mencari informasi di Google. Ternyata masjid Cheng Hoo pertama dibangun di Surabaya (2002), lalu Sriwijaya Palembang (2006), Kutai Kartanegara (2007), Purbalingga (2011), Gowa (2014), Batam (2015), dan Banyuwangi (2016). Masjid Cheng Hoo yang sedang dibangun berada di Jambi (2002), Banjarmasin (2014) serta Samarinda (2017). Rencananya akan dibangun juga di Bangkalan dan Magelang (asyik). (sumbernya ini)

Menurut buku karangan Peter J.M. Nas, Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia (2009), “Masjid Muhammad Cheng Ho yang didirikan oleh PITI dibangun dengan gaya Cina, mencontoh Masjid Niu Jie di Beijing. Struktur atapnya membentuk pagoda yang sesungguhnya.”

Sebenarnya, arsitek masjid yang ada di Indonesia sebagian merupakan akulturasi dari berbagai macam budaya. Misalnya, Masjid Agung Demak (masjid tertua di Indonesia) yang dibangun Raden Patah atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Masjid Menara Kudus (disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar) adalah masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi adengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama dan terletak di Kauman, Kudus, Jawa Tengah. Yang paling monumental dari masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit. Keunikan bentuknya tidak akan ditemui di menara masjid manapun di seluruh dunia.

Sementara itu masjid Agung Banten yang dibangun Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570) atapnya tumpuk lima. Konon, rancangan bangunan utama masjid yang beratap tumpuk lima ini dipercayakan kepada arsitek Tiongkok bernama Cek Ban Cut. Selain jumlah tumpukan, bentuk dan ekspresinya juga menampilkan keunikan yang tidak ditemui kesamaannya dengan masjid-masjid di sepanjang Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia. Dua tumpukan atap konsentris paling atas yang samar-samar mengingatkan idiom pagoda Cina.

Arsitek masjid di Indonesia terus berkembang. Ada yang sengaja mengakulturasikan berbagai budaya, namun ada pula yang mempertahankan masjid bergaya Timur Tengah, seperti Masjid Al Akbar Surabaya, Masjid Agung An-Nur Pekanbaru, dan Masjid Islamic Centre Samarinda. Ada juga masjid Indonesia bercorak arsitektur modern, yaitu Masjid Raya Sumatera Barat.

Apapun bentuk dan arsitektur masjidnya, yang penting umat Muslim bisa memakmurkan masjid. Bisa menjalankan ibadah dengan tenang. Jangan sampai bangunan masjidnya megah tetapi jamaahnya kosong. Mari, mulailah sholat berjamaah (ajakan untuk diri sendiri)!!! *


Monday, 13 November 2017

Awas, Harga Makanan di Anyer, Bikin Jengkel!

Pantai Karang Bolong (Joko Harismoyo)

Rumah makan seafood dengan beberapa gubuk itu tampak sepi. Hanya ada dua orang yang sedang makan nasi goreng. Kami masuk ke resto itu dan memesan seafood. Harganya? Bikin jengkel!


Sehabis check in di Hawaii Resort Family Suites di Jalan Raya Labuan km 146 Pondok Waru, Bulakan, Serang kami keluar lagi untuk makan malam. Baru sekitar jam 19:00 WIB. Tapi, sudah melewati Karang Bolong, belum juga menemukan resto. Sudah sekitar 4 km jalan loh. Akhirnya, di jalan Kosambi kami menemukan sebuah resto seafood.

Ada beberapa gubuk di sisi kanan dan kiri. Di bagian tengah dipakai untuk parkir dan tempat memesan makan dan minum. Resto itu sepi, hanya ada sepasang pengunjung yang sedang makan nasi goreng. Kami memesan ikan bakar, cumi saus padang, dan cah kangkung. Minumnya, 2 es jeruk dan 2 teh tawar.

Ikan baronang yang disajikan ukuran sedang. Cukup untuk berdua. Sebelumnya, soal ikan ini, istri saya sempat tanya harganya. Katanya, Rp95.000. Ada ukuran nsedang Rp75.000. Untuk masakan lain, tidak bertanya apapun. Cumi yang dihidangkan tidak banyak, Potongannya besar dan alot. Mungkin cumi dewasa he hee. Untuk masakan tergolong standar.Karena laper, semua hidangan ludes.

Perkiraan kami, paling mahal Rp250.000. Ternyata haragnya Rp335.000. Cumi saus padangnya Rp125.000. Untuk resto sederhana dengan fasilitas seadanya itu, harga tersebut di luar perkiraan. Sehabis bayar, barulah kami menggerutu di mobil (saat bayar, kami tidak protes apapun). Harga itu memang tak sepadan dengan fasilitas dan menu yang disajikan.

Mengapa tidak sepadan? Siang berikutnya kami makan di RM Taman Taktakan (di Serang Timur). Resto yang sama, ada juga di sekitar Anyer. Kami pesan sup ikan, ayam goreng dan udang saus padang. Minumnya, 2 jeruk hangat, 1 jeruk nipis hangat dan 1 teh tawar. Harganya? tidak sampai Rp300.000. Padahal, ruang lebih nyaman, fasilitas lengkap. Malah, musholanya ber-AC.

Karena puas, sebelum pulang, kami membungkus otak-otak ikan. 10 biji harga Rp50.000. Harga yang pantas. Meski menurut saya pribadi, rasa otak-otaknya terlalu manis. Dan satu lagi, di resto itu sedia es Njonja Besar. Es kesukaan anak-anak.

Oh ya, untuk hotelnya, kami sedikit kecewa. AC kurang dingin. Dan ketika kami komplain, petugas datang dan bilang sudah diisi freon. Emang sih, saat petugas ngecek, AC lumayan dingin. Tapi malam menjelang pagi, dingin AC sudah tak terasa. Habis subuh, jendela kami buka lebar-lebar. Mending dapat angin langsung dari pada AC mati.

Untuk pesan hotel melalui situs, perhatikan juga beberapa opsi. Dapat sarapan atau tidak, lokasinya garden view atau beach view, dan sudah termasuk pajak atau belum. Berhubung yang memesan hotel si kecil, dia nggak nyontreng soal sarapan dan lokasi kamar. Jadinya, kamar menghadap ke kebun dan tidak dapat sarapan.

Kamar bisa ditempati 5 orang. 2 tidur di kasur atas, 2 di kasur bawah dan 1 di kursi. Karena cuma berempat, kami bisa tidur di kasur semua. Ada juga kompor, oven, panggangan roti dan peralatan masak. Lumayan bisa bikin mie instant atau kopi tanpa keluar kamar.

Bagaimana rasanya naik "donat" di pantai Karang Bolong? Besok yah reviewnya. *

Wednesday, 12 July 2017

Bangkitnya Ecotourism di Magelang, Semoga!

Lebaran kedua 2017 (Selasa, 26 Juni), sekitar jam 06:30 WIB saya bersama istri dan dua anak, berangkat ke Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang hanya berjarak sekitar 14 km dari alun-alun. Karena kesiangan, gagal rencana motret sunrise. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali (biasa nyari alibi).

Tujuan utamanya ke Gardu Pandang Mangli. Tapi, akhirnya saya parkir di Gardu Pandang Silancur, yang saat itu saya anggap sebagai Mangli. Suhu sekitar 17 derajat Celcius. Cukup dingin untuk orang Jabodetabek. Dan anginnya alamaaakkk. Kuenceng. Apalagi saya tidak memakai jaket. Tapi cadangan lemak pada tubuh saya mampu menghalau hawa dingin tersebut. (Anak laki saya akhirnya nyerah dan berlindung di mobil setelah satu jam dihajar angin kencang).

Tiket masuk Gardu Pandang Silancur
Saya naik ke gardu pandang setelah membeli tiket masuk seharga Rp5.000 per orang. Pengunjung belum banyak. Hanya ada ada satu mobil plat B yang parkir di dekat saya dan beberapa motor plat lokal AA.  Sebelum naik ke gardu pandang yang terbuat dari bambu, saya menyempatkan diri mengambil beberap foto. Ada spot menarik, lereng Gunung Sumbing diselimuti kabut tebal yang berarak kencang. Mirip awan di langit Jepang. Biru pekat dengan awan putih berlarian.

Penyesalan saya karena tidak bisa melihat sunrise terobati ketika saya bertemu dengan pemilik Gardu Pandang Silancur (GPS). Gardu di atas bukit kecil ini ternyata milik perorangan, kepunyaan Jarwo (No HP 0856-43229-991). Gardu berada di punthukan paling atas. Sebelum naik ke gardu ada dua punthukan (gundukan) bukit yang memiliki jalan melingkar. Di jalan melingkar itu dibangun beberapa gubuk atau gazebo.

Brokoli
Di dekat pintu masuk, berdiri warung mungil dari bambu yang menyatu dengan tempat penjualan loket. Warung ini menyediakan mie dan kopi instant. Saya tidak tahu, kalau hari biasa, tersedia gorengan atau tidak. Yang pasti, saat saya ke sana pagi hari, warung belum buka. Mereka baru berjualan sekitar pukul  07:30.

"Dinten niki sunrise mboten sae, pak (sunrise hari ini tidak baik)," kata Jarwo membuka pembicaraan. Lalu, kami ngobrol ngalor ngidul menggunakan bahasa kromo inggil. Sebagai piyayi Jawa, saya terbiasa ngomong kromo. Soal tepat atau tidak, nggak perlu dibahas.

Jarwo, pemilik GP Silancur
Menurutnya, angin kencang baru terjadi dua hari, mulai lebaran pertama. Di saat saya ngobrol, dua anak saya mengeksplore menggunakan ponsel masing-masing. Kamera di bawah kuasa saya, mutlak.  Sambil motret, saya terus ngobrol, terutama soal konsep bisnis yang tengah dijalankan GPS.

Beberapa orang yang datang ke GPS, menurutnya, sudah menawarkan modal untuk menyulap tempat tersebut menjadi tempat peristirahatan. "Tapi saya tidak mau. Saya ingin tanah ini kami kelola bersama anak cucu," tegasnya. Saya sempat bertemu juga dengan ayah Jarwo, yang juga datang ke lokasi.

Untuk menunjang bisnis GPS, Jarwo melibatkan tetangga. Ada yang membangun lahan parkir mobil di pinggir jalan. Juga kebun-kebun di sekitar GPS diberdayakan Jarwo untuk melayani pengunjung. Istri saya sempat memetik brokoli, yang per bijinya dihargai Rp2.500. Lebih murah dibanding harga di pasar tradisional di Jabodetabek yang menurut istri berkisar Rp9.000. Maaf saya tidak tahu harga brokoli di pasar tradisional Magelang. Jadi tidak bisa membandingkan. Juga membeli pohon onclang di dalam polybag. Di sini memang menjual berbagai sayuran segar. Tidak semua milik GPS, tapi boleh dibeli dan memetik sendiri. "Di sebelah sana ada stowbery, tapi belum berbuah," ujarnya.

Gardu Pandang Mangli
Ia ingin tetangga terlibat dalam bisnis pariwisata ini, meski menurutnya tak mudah. Padahal, jika mereka bekerja sama niscaya daerah tersebut bisa berkembang. Ada yang menyediakan homestay bagi masyarakat yang ingin menginap atau menyewakan tenda bagi yang ingin berkemah. "Banyak yang ingin menginap di sini, tapi tidak ada penginapan," keluhnya.

Dua hari setelah 'kesasar' ke Silancur, saya benar-benar mengunjungi Gardu Pandang Mangli. Sayang, saya tak bisa sepagi saat mendatangi Silancur. Sekitar jam 11:30 saya baru sampai di Mangli. Mobil tidak bisa naik ke atas. Saya parkir di pinggir jalan, kemudian disambung ojek PP Rp15.000 (biasanya Rp10.000) per orang. Mereka sabar menanti sampai kita puas memotret (lama pun dia tak protes).

Background awan
Perjalanan naik dengan ojek lumayan, sekitar 1-2 km dengan jalan makadam. Tukang ojek yang penduduk asli di situ sudah canggih melewati tikungan dan tanjakan. Saya disuruh duduk menempel tukang ojek agar berat kendaraan stabil saat menanjak. Perjalanan naik tak masalah, namun perjalan turun begitu mendebarkan. Turunan tajam dengan jalan makadam. Bikin deg-degan. Sempat membayangkan kalau rantai motor itu putus.....Saya, dan juga anak-anak, berpegang erat pada bagian belakang jok sehingga anak-anak kampung meledek. "Takut yah...," ujar mereka.

Di Gardu Pandang Mangli terdapat banyak spot untuk berfoto. Ada gardu yang menempel di pohon dengan latar belakang lereng Gunung Sumbing, ada yang bersentuhan langsung dengan awan putih sehinga kita serasa sedang naik pesawat dan menembus awan. Karena siang hari yang terik, hasil jepretan kurang maksimal.

Berfoto di gardu pandang yang menempel di atas pohon, hampir mirip dengan foto studio karena latar belakangnya menjadi putih. Itu bukan kain background di studio tetapi awan tebal di lereng tersebut. Nih hasilnya.


Di sini, banyak tanaman tembakau, kapri, onclang, kol dan juga strobery. Sebenarnya ada juga air terjun di sekitar situ, tapi saya memilih tak ke sana karena faktor stamina plus lapar yang menyerang. Anak-anak mengajak makan kupat tahu di Tahu Pojok, dekat alun-alun. Karena kehabisan, akhirnya makan kupat tahu di Pak Slamet. ***

Sunday, 21 August 2016

Melon Berbentuk Hati di Taman Buah Mekarsari


Beberapa kali mengunjungi Taman Buah Mekarsari, saya tak bisa leluasa melihat aneka buah yang ada karena padatnya pengunjung. Selasa (16/8/2016) saya bertandang ke sana sebagai seorang jurnalis. Tentu, saya dipandu untuk melihat seluruh isi taman.

Kedatangan saya ke jalan Cilengsi, Bogor, Jawa Barat kali ini sebenarnya untuk memotret obyek yang akan dijadikan cover tabloid. Jadi, mata saya lebih banyak melihat buah dan tanaman dibanding mendengarkan penjelasan dari Fransis E Kerong, Operational Manager Mekarsari serta staf marketing (Firman) dan riset (Riris).

Walau demikian, ketika menengok kebun buah, saya banyak bertanya dan mendengar, dibanding saat saya berada di kontor (gedung air terjun).

Tempat pertama yang dituju adalah kebun melon. Ada beberapa green house berisi tanaman melon dalam pot. Buah melon yang berwarna hijau kekuningan itu tak terlalu besar, namun sudah cukup matang untuk dipetik sekaligus dimakan.

Mata saya tertuju pada melon berbentuk hati (LOVE). Ini mirip petani di Jepang yang membentuk melon atau semangka menjadi segi tiga atau bujur sangkar. Sebenarnya, tak sulit membentuknya. Kita hanya perlu cetakan, lalu memasangnya ketika melon sedang berbunga. Bentuk melon akan menyesuaikan dengan cetakan tersebut.

"Banyak yang membeli melon ini untuk lamaran. Harganya Rp50.000," ujar Riris yang mendampingi kami keliling Mekarsari. Ia menambahkan, bisa juga orang memesan bentuk khusus, misalnya huruf tertentu.

Setelah melihat-lihat melon, penjaga mengupas dan menyodorkan kepada saya untuk mencicipi. Rasanya lebih juicy dan manis dibanding melon yang ada di pasar. Maklum, tanaman di sini semua memakai pupuk organik.

Selesai mengunjungi kebun melon, saya menuju ke kebun salak. Meski melewati kebun buah lain, seperti komplek nangka, durian, mangga, jambu, dan lain-lain, kami tak mampir mengingat keterbatasan waktu.

Mata saya tertuju kepada salak berwarna kemerahan dan tanpa duri kecil di kulitnya. Namanya salak affinis (salacca affinis). Meski buahnya tak berduri, tetapi pohonnya sama dengan salak lainnya, tetap berduri. Buah salak pun menempel di pohon.

Lalu, saya dibawa ke pohon salak kurang duri (salacca valacca). Pohon salah sudah tidak berduri. Buahnya pun tak menempel di pohon. Ada batang menyembul dari pohon dan salak menempel di batang sembulan itu. Lebih mudah memetiknya. Sayang, buah salak masih berduri lembut.

"Sekarang kami sedang menyilangkan salak affinis dengan salak kurang duri. Diharapkan, akan muncul varietas baru di mana pohon dan salak tidak berduri sama sekali," ujar Riris menjelaskan sambil menyodorkan salak bali untuk dicicipi. Rasanya manis, dagingnya tebal dan tak ada rasa sepet, seperti salak bali pada umumnya.

Dari kebun salak, kami melanjutkan ke kebun buah langka. Di meja display, terdapat buah dewandaru, duwet (jamblang), gayam, kepel, matoa, maja, dan lain-lain. Di sini saya baru tahu kalau kluwak adah biji dari buah picung (pangium edule).

Perjalanan berikutnya ke kebun sawo. Jenis-jenis sawo dijual di tempat ini. Ada sawo kecik, sawo apel, sawo duren, sawo manila, sawo australia dan sawo raksasa. Sawo manila adalah sawo yang biasa kita makan dan banyak beredar di pasar. Bentuknya kecil, lebih kecil dari genggam tangan.
Bandingkan dengan sawo raksasa, yang konon berasal dari Amerika. Buahnya sebesar melon atau sama dengan kepala anak TK. Jauh lebih gede dibanding salak manila.

Terakhir, saya mengunjungi kebun belimbing. Pohon belimbing dibuat pendek dengan terus memotong batang agar tak naik. "Biar mudah bungkus dan metiknya," ujar Riris. Di sini, dijual belimbing segar berikut hasil olahannya, ada manisan dan dodol belimbing.

Mengingat matahari sudah di atas kepala, kunjungan pun diakhiri. Mengunjungi Mekarsari di hari kerja ternyata lebih enak, bisa mengelilingi seluruh kebun dengan mobil Mitsubishi L300 yang disulap menjadi mobil wisata. Tak perlu antre dan nunggu lama.

Jika ingin ke Mekarsari, buka websitenya. Jadi, tahu fasilitas yang ada serta lokasi yang akan dituju. Nginep juga bisa kok. Ayo, kunjungi taman seluas 264 ha ini! (Foto: Joko Harismoyo)

Tuesday, 9 August 2016

Menyulap Kragilan (Magelang) Menjadi Gunung Pancar (Bogor)?

Berfoto di hutan pinus Top Selfie, Kragilan, Magelang.
Melihat foto-foto yang beredar di media sosial, Top Selfie Pinusan di Dusun Kragilan dan Kekokan, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang perlu berbenah agar menjadi tempat wisata alam nan memesona seperti halnya Gunung Pancar di Sentul, Bogor.

Saat mengunjungi Kragilan di lereng Gunung Merbabu menjelang Idul Fitri 2016, tempat ini ramai pelancong, baik lokal maupun luar kota. Plat mobil B (Jakarta), F (Bogor), dan D (Bandung) lebih banyak parkir di lahan yang disediakan oleh pengelola Top Selfie Pinusan.

Saya tak kaget ketika memasuki Kragilan dan menemukan panjang hutan pinus ini sekitar 150-200 meter. Selebihnya sudah masuk ke perkampungan warga. Dari foto-foto yang beredar di media sosial, sebagai tukang foto, saya sudah bisa memprediksi kalau hutan pinus di sini tak sepanjang yang dibayangkan publik.

Hutan pinus yang menyatu dengan perkampungan adalah obyek wisata yang menarik. Asalkan, dikelola baik dengan melibatkan stakeholder (pemangku kepentingan) yaitu masyarakat setempat, pemda Kabupaten Magelang, pemda Provinsi Jawa Tengah, serta pihak swasta.

Karena saat ini (saat saya berkunjung ke sana) , pengelolaan Top Selfie dilakukan oleh penduduk setempat. Wajar, jika fasilitas yang tersedia hanya 'seadanya'. Tiket masuk pun super murah, untuk motor Rp3.000 dan mobil Rp10.000 (jumlah penumpang tidak dihitung).

Warung makan pun minim. Menu yang tersedia standar, sekitar mie instant, bakso, atau pecel lele dan ayam. Arena bermain anak hanya ada flying fox. Bagaimana mendongkrak Kragilan agar menjadi bidadari cantik seperti Gunung Pancar?

Keterlibatan Pemda

Top Selfie Kragilan, Magelang
Hutan pinus ini kabarnya milik Perhutani. Masyarakat berinisiatif mengelola setelah tempat ini dikunjungi banyak orang agar lebih tertib dan nyaman. Kragilan mulai termasyur setelah foto-fotonya beredar di media sosial.

Setelah tenar, fasilitas harus dibenahi. Terkenal tanpa melalui promosi besar-besaran adalah anugrah. Bayangkan, jika harus memasang iklan di media massa baik cetak, online maupun elektronik. Berapa biayanya? Harus matur nuwun pada Twitter, Facebook, Instagram, Path dan makhluk sejenisnya.

Membenahi fasilitas, bukan sekedar soal dana, tetapi juga itikad baik dari semua pemangku kepentingan dalam hal ini pemda kabupaten dan provinsi, masyarakat Kragilan, Perhutani sebagai pemilik lahan, serta swasta.

Pemda kabupaten (lebih baik didukung Provinsi), harus membuat anggaran untuk membangun infrastruktur menuju Kragilan. Jalan sudah baik, beraspal mulus. Angkutan umum sampai ke Kaponan, Pakis sudah banyak. Apa lagi yang dibutuhkan?

Bangun infrastruktur pendukung. Misalnya, membuat perkebunan buah untuk wisata petik buah (fruit picking). Saya melihat, tak jauh dari lokasi itu ada beberapa kebun petik buah strawberi. Pemda bekerja sama dengan penduduk, bisa mendirikan beberapa kebun petik buah seperti ini untuk meningkatkan daya tarik.

Perlu juga dipikirkan untuk mendirikan pusat seni untuk menampilan kerajinan dan budaya masyarakat setempat. Kubro siswo, tarian khas Magelang, bisa menjadi menu pembuka bagi pengunjung di Kragilan. Atraksi makan beling, tentu membuat decak kagum pengunjung, khususnya bule.

Gandeng Investor

Taman Wisata Gunung Pancar yang memiliki luas areal 447.5 dikelola oleh PT Wana Wisata melalui SK Menteri Kehutanan Nomor : 54/Kpts-II/93 tanggal 8 Februari 1993. Di tangan, Wana Wisata, Gunung Pancar berkembang pesat. Memiliki fasilitas outbond, paket fotografi, paket syuting, pesta pernikahan (termasuk foto pre wedding), camping ground, sampai kolam air panas yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Menggandeng investor swasta adalah salah satu opsi yang bisa dipilih. Tentu, beberapa klausul 'kerakyatan' harus disepakati. Misalnya, melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan fasilitas tertentu. Bisa menyediakan lahan untuk berdagang dengan harga sewa terjangkau. Juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat tanpa meninggalkan profesionalitas.

Saat saya ke sana, istri sempat membeli daun bawang di kebun penduduk, saat mereka memanen. Dengan Rp5.000, kami mendapat seikat besar daun bawang.

Wisata alam seperti menanam dan memetik sayuran bisa dikembangkan di sini. Penduduk bisa menjual produknya dengan harga di atas harga pasar sekaligus 'menjual' cara berkebun. Bagi orang kota, wisata ini amat menarik dibanding melihat mal.

Menciptakan berbagai fasilitas dan model wisata ini, saya rasa sulit dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Megelang, mengingat keterbatasan dana dan juga sumber daya manusia. Bekerja sama dengan swaswa bukan barang haram. Yang penting pemda bisa menjaga klausul yang menguntung kedua pihak, baik investor maupun masyarakat. Sebagai regulator, pemda harus bijak.

Saya tunggu aksi pemda Kabupaten Magelang untuk menyulap Kragilan menjadi layaknya Gunung Pancar. Semoga. (Warga Magelang yang hijrah ke kota). (Foto: Dirga Alban)*

Friday, 15 July 2016

Mengejar Cinta di Gereja Ayam Bukit Rhema

Foto di mahkota gereja

Saya terusik saat nonton film Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC2) di mana Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) melepas rindu di Gereja Ayam di Dusun Gombong, Desa Kembang Limus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Saya pun berniat untuk mengunjugi lokasi itu yang tak jauh dari kota asal saya, Magelang.

Menjelang Lebaran 2016, tepatnya Senin, 4 Juli pukul 06:00 WIB saya sudah tiba di lokasi. Tak jauh dari tempat tinggal ortu, sekitar 25 km. Lokasi gereja berada 200 meter dengan jalan menanjak. Yah, ibarat naik gunung. Namun jalan menuju Rumah Doa sudah diplester. Menebus tiket Rp10.000 per orang, kami (saya, istri dan 2 anak) naik ke Bukit Rhema. Setelah sedikit ngos-ngosan, sampailah di atas. Ehhhh......nongol mobil Taft disusul Feroza. Ternyata itu mobil angkutan dari parkir menuju lokasi. Tarif hanya Rp7.000 per orang.

Keinginan melihat sunrise kandas karena mentari sudah bersinar terang benderang. Saya mengambil foto Gereja Ayam, yang sejatinya adalah Rumah Doa Merpati, sebelum masuk ke bangunan. Saya khawatir panas matahari akan mengurangi kualitas foto.

Gereja Ayam di Magelang
Gereja Ayam yang menghadap Timur memiliki pintu masuk di sisi Utara. Penjaga gereja kebanyakan berasal dari Serui, Papua Barat. "Rumah doa ini dibangun 1992. Ini bukan gereja. Semua orang boleh berdoa di sini," ujar Yunus, pria asal Serui yang menyebut dirinya 'Mas'. "Kalau di Jawa jadi mas, kalau di Papau pace," lanjutnya.

Sebagai rumah doa untuk semua umat beragama, pengunjung boleh mengejar cinta Illahi di bangunan ini. Jadi, tak harus seperti Rangga yang memburu cinta dari gadis pujaanya yang kebetulan bernama CINTA.

Saya masuk ke lorong basement. Terdapat ruang-ruang kecil dengan bentuk tak beraturan. Penerangan melalui jendela dan lampu seadanya. Konon, ruang bawah tanah ini digunakan sebagai tempat rehabilitasi bagi mereka yang berbeban berat (orang stres, ketergantungan narkoba, kenakalan remaja, korban kekerasan).

Aula gereja
Saya sempat didatangi Yunus dan diberi tahu jalur menuju aula gereja. Dikiranya, saya nyasar. Padahal, saya memang ingin masuk ke ruang tersebut untuk mengambil foto.

Memasuki aula gereja, pemandangan berbeda dengan foto-foto yang beredar di website. Kini, aula sudah rapi dengan keramik utuh. Tak ada coretan-coretan anak alay yang mengungkap cinta atau mengharapkan uluran kasih. Panjang aula sekitar 20, dan lebar 12m (hanya kira-kira yah). Atap bangunan berbentuk melengkung. Inilah badan merpati.

Di sisi kiri kanan aula dekat tangga naik ke mahkota, terdapat beberapa kursi yang bisa dipakai beristirahat. Ada juga pedangan minuman dan mie instant.

Tangga naik
Dari aula, saya naik ke leher bangunan melalui tangga kayu. Terdapat lukisan wanita bermahkota membawa panah, bertuliskan "Welcome to Bukit Rhema." Saya tak tahu apakah itu lukisan Srikandi atau Sembodro.

Di leher merpati terdapat beberapa jendela berbentuk wajik. Dari sini, kita bisa melihat pemandangan di bawah atau mengintip bukit Punthuk Setumbu walau yang terlihat hanya pepohonan karena posisi yang kurang tinggi.

Melalui tangga kayu lagi, saya naik ke paruh merpati. dari paruh warna merah ini, bisa melihat pengunjung yang ada di luar gereja serta pohon di bawah bangunan. Ternyata, pengunjung yang antre untuk naik ke mahkota sudah banyak.

Jendela di leher ayam
"Hanya 10 orang. Saya kasih waktu lima menit," kata Nagor, penjaga asal Papua juga. Setelah menunggu sekitar 15 menit, barulah saya dapat giliran menginjakkan kaki di mahkota Rumah Doa Merpati.

Di Barat, terlihat Punthuk Setumbu, tempat melihat sunrise dan kemolekan Mahkota Gereja Ayam dari kejauhan. Kondisi mahkota sudah berbeda dengan kondisi saat Rangga dan Cinta bertemu. Mahkota sudah diberi pagar besi sehingga mengurangi nilai artistiknya. Tapi, demi keamanan, pemagaran itu bisa diterima akal sehat.

Karena penasaran ingin melihat Gereja Ayam dari Punthuk Setumbu, pada Lebaran kedua, 7 Juli 2016, jam 04:00 pagi saya berangkat ke bukit itu. Subuh sudah sampai ke lokasi.

Ekor ayam
Jalan naik ke bukit setinggi 400 dpl itu sudah diplester. Aman dan gampang, meski tetap ngos-ngosan karena lumayan jauh, 300 meter. Tak ada angkutan atau ojek sampai atas. Kalau malas naik, ada rumah singgah di bawah. Tapi, saya tak tahu bisa melihat sunrise dengan sempurna atau tidak.

Sampai di atas bukit, pengunjung sudah bejibun. Pelancong lokal dan turis asing sudah 'menguasai' posisi depan dengan kamera masing-masing. Harus berburu lokasi untuk mendapat tempat yang pas.

Sunrise di Punthuk Setumbu
Sayang, pagi itu terdapat awan sehingga sunrise kurang yahud. Tetapi, setelah mentari naik, mahkota Gereja Ayam tampak jelas di antara pepohonan nan hijau. (foto: Joko Harismoyo)***

Monday, 11 July 2016

Alun-alun Magelang, Keindahan yang Memudar

Meski tak lagi memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Magelang, namun kota ini tak bisa dipisahkan dari kehidupan saya. Besar dan sekolah di Magelang membuat saya peduli akan kota kelahiran anak sulung saya ini.

Setiap kali pulang ke Kota Tidar, saya selalu melewati alun-alun. Inilah rute dari rumah orang tua saya ke keluarga istri saya di Meteseh, Magelang Tengah (dulu masuk Kecamatan Magelang Selatan).  Nah, alun-alun yang hanya berjarak dekat dari rumah ortu dan mertua membuat saya paham dengan perubahan yang terjadi di pusat kota Maagelang ini.

Tahun lalu, alun-alun rapi dan bersih. Pedagang makanan diatur rapi di dekat menara air PDAM di sebelah Utara, membentang dari Menarai Air hingga di depan Bank Central Asia (BCA). Tenda pedagang ditata dengan bentuk dan warna seragam. Bahkan, pedagang gorengan pun mendapat tenda untuk berjualan. Tak ada tenda-tenda liar di sekeliling dan tengah lapangan.

Alun-alun benar-benar berfungsi sebagai ruang publik tempat bertemu dan berinteraksinya masyarakat. Pedagang dengan pembeli, pelancong, dan juga aktivitas budaya. Beberapa aktivitas pemerintah, seperti pentas seni, gelar budaya, atau lomba lari dan gerak jalan, memanfaatkan alun-alun sebagai tempat start atau finish.

Saat anak-anak saya ke alun-alun, mereka senang dengan kebersihan dan kerapian alun-alun. Sungguh memesona!

Memudar

Namun, Lebaran 2016 ini, pesona alun-alun berkurang. Sehabis melihat sunrise di Punthuk Setumbu, anak sulung saya ingin singgah untuk memotret Patung Diponegoro. Kami berkeliling alun-alun. Dari sinilah kekecewaan saya muncul.

Beberapa tenda pedagang, dari pedagang angkringan hingga terpal untuk mainan anak-anak ada di sekeliling alun-laun. Terpal berisi air ada di dekat Patung Diponegoro. Juga ada di bawah pohon beringin di tengah alun-alun. Mungkin, terpal berisi air itu adalah tempat anak-anak belajar memancing. Di sisi Selatan, tenda pedagang tak dilepas. Hanya ditutup terpal.

Jika dulu rental sepeda listrik dan mobil-mobilan hanya boleh mengelilingi menara air, kini sepeda dan mobil listrik boleh melibas rumput alun-alun. Rumput pun tak seindah tahun lalu. Beberapa bagian tampak gundul, persis seperti rambut saya yang mulai menipis.

Saya tidak tahu, apakah pemkot memberikan ijin terhadap pedagang di tengah alun-alun, mengingat walikota Magelang dari tahun lalu hingga saat ini masih sama. Seandainya pedagang itu tidak mendapat ijin, rasanya juga mustahil. Apakah mereka berani melanggar di pusat kota yang harusnya dijaga keindahannya?


Atau pemkot memang memberikan ijin kepada pedagang untuk berjualan di alun-alun untuk memberi kesan pemerintah kota yang lebih merakyat dan membela wong cilik? Saya tidak tahu dan tidak mau berspekulasi. Mungkin, teman-teman birokrat di Magelang bisa memberikan informasi mengenai kondisi ini? Mari kita jaga alun-alun agar tetap indah, bersih dan rapi sehingga Kota Sejuta Bunga ini tetap semerbak. *

Wednesday, 8 June 2016

Mengangkat Kucing Menjadi Kepala Stasiun, Penumpang Kereta Api Melonjak

Kucing Nitama
Jumlah penumpang kereta api Wakayama Electric Railway Kishigawa Line, Prefektur Wakayama melonjak tajam sejak seekor kucing betina menjabat kepala Stasiun Kishi. Pelancong pun ingin menikmati sensasi naik kereta api bertema kucing (tama), stoberi (ichigo), dan mainan (omocha).

Saat saya tiba di Stasiun Idakiso, hari masih pagi, sekitar pukul 08:00 waktu setempat. Memerlukan sekitar satu jam perjalanan dari bandara internasional Kansai di Osaka menuju Stasiun Idakiso yang berjarak 43 km.

Stasiun tampak sepi. Hanya ada beberapa petugas yang bersiap menyambut kedatangan para pelancong. Wajar karena aktivitas stasiun baru dimulai pukul 09:00. Tak lama berselang, datang rombongan turis yang didominasi wanita setengah baya. Dari tutur bicaranya, bisa ditebak pelancong itu berasal dari Tiongkok.

Sebelum loket tiket dibuka, petugas memberi izin kepada saya untuk melihat kereta yang ada di stasiun tersebut. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan menjelajahi gerbong, dari ruang masinis hingga ke ujung kereta.

Tiga Jenis

Sekilas, garbong kereta api tidak ada bedanya dengan gerbong Commuter Line (CL) di Jakarta. Harap maklum, gerbong CL mayoritas juga didatangkan dari Negeri Sakura. Meski bentuknya sama, tetapi terdapat beberapa perbedaan karena kereta di stasiun ini berfokus melayani pelancong.


Stasiun Kishi
Perbedaan paling mencolok terletak pada interior gerbong. Tidak ada iklan kopi, shampo atau film di atas kaca jendela gerbong. Perbedaan lain adalah kursi penumpang. Walau sama-sama memanjang dan saling berhadapan, tetapi tempat duduk kereta di Kishigawa Line lebih ekslusif.

Kursi penumpang terbuat dari kayu. Bentuk, warna dan motif kursi berlainan. Penumpang bisa memilih kursi sesuai selera. Kendati demikian, tema kursi kereta api sesuai dengan jenis kereta. Misalnya, kursi bertema kucing untuk tama densha, stroberi untuk kereta stroberi (ichigo densha) dan mainan untuk kereta api mainan (omocha densha).

Saya sempat berkeliling di tama densha, mendapati seluruh interior kereta bertemakan kucing. Bahkan, di dalam gerbong terdapat kandang kucing. Juga perpustakaan yang seluruh bukunya membahas soal kucing. Penumpang boleh membaca buku tersebut. Tapi, jangan coba-coba mengambil buku itu karena akan ketahuan petugas.

Kereta Tama
Di kereta api stroberi, kursi penumpang, lantai, dan meja terbuat dari kayu. Terlihat lebih natural. Jika datang ke tempat ini pada Februari hingga Mei, Anda bisa mengunjungi kebun stroberi di dekat Stasiun Kishi, tempat pemberhentian terakhir ichigo densha.

Bila eksterior gerbong kereta api kucing dan stroberi berwarna putih, omocha densha berwarna merah. Di dalam kereta terdapat berbagai mainan, termasuk tokoh-tokoh yang ada dalam anime dan manga. Untuk membeli mainan, tinggal menuju ke gachagacha, vending machine mainan yang ada dalam gerbong omocha densha.

Kucing

Puas melihat-lihat gerbong, saya menuju ke loket penjualan tiket di mana di depannya terdapat kandang kucing. Di kandang itulah dulu Nitama, kepala Stasiun Idakiso berkantor. ‘Kantor’ dari kaca itu memungkinkan pengunjung melihat dari dekat aktivitas kucing betina tersebut. Selain menjabat sebagai kepala stasiun Idakiso, Nitama juga menjadi asisten Tama, kepala stasiun Kishi, sejak 5 Januari 2012.

Sementara itu, Tama diangkat sebagai kepala Stasiun Kishi pada 5 Januari 2007. Sebagai pejabat, karir Tama melesat karena mampu melipatgandakan jumlah pelancong asing yang berkunjung ke Wakayama. Tahun 2014, jumlah pelancong di 14 stasiun di Kishigawa Line naik lebih dari 240%.

Apa pekerjaan Tama sebagai kepala stasiun? Cukup duduk manis di kandang. Tidak boleh marah dan panik saat jumlah pengunjung stasiun berlimpah dan berebut menonton sambil memotret. Bersedia memakai topi yang menunjukkan dirinya adalah kepala stasiun.

Bagian dalam kereta Tama
Tama meninggal 22 Juni 2015 pada usia 16 tahun (setara dengan manusia usia 80 tahun) setelah menderita sakit jantung. Karena berjasa besar mendatangkan pelancong ke Prefektur Wakayama, pemakaman Tama dilakukan secara meriah dengan adat Shinto pada 28 Juni 2015. Tama juga diangkat sebagai dewi.

Posisinya digantikan oleh Nitama. Penunjukan Nitama menjadi kepala stasiun melalui seleksi ketat, termasuk perilakunya. Misal, tak boleh marah dengan pengunjung dan bersedia memakai topi sebagai simbol kepala stasiun.

Tama adalah kucing pertama di dunia yang menjadi kepala stasiun. Menurut cerita, di tempat itu dulu bermukim seorang pecinta binatang. Saat rumahnya digusur dan dijadikan stasiun kereta, dia meminta kucingnya diberi pekerjaan agar hidup kucing-kucing itu terjamin. Permintaan itu disetujui oleh Wakayama Electric Railway, operator kereta api di jalur tersebut.

Tama Museum

Panjang rel Kishigawa Line adalah 14,3 km, memanjang dari Stasiun Wakayama hingga Stasiun Kishi. Karena Saya berangkat dari Stasiun Idakiso menuju Stasiun Kishi maka waktu yang diperlukan hanya 15 menit, melewati Stasiun Sando, Stasiun Oikeyuen, Stasiun Nishiyamaguchi, serta Stasiun Kanroji.

Tiba di Stasiun Kishi, mentari bersinar cerah. Langit tampak biru. Di sisi kiri terdapat Tama Cafe, sedang di sebelah kanan ada toko suvenir. Tama cafe menyediakan kopi, jus buah, dan cemilan lokal. Untuk mengusir dingin, kopi panas menjadi pilihan terbaik. Toko suvenir menyediakan berbagai buah tangan khas Kishi, seperti gantungan kunci, buku, pensil, dan pulpen yang bertemakan kucing.

Secangkir kopi membuat tubuh terasa hangat. Saya keluar dari stasiun untuk melihat bangunan yang katanya mirip kucing. Dari jarak 30 meter, tampak nyata bangunan itu bagai seekor kucing. Di samping kanan dan kiri tulisan TAMA terdapat telinga, sedang di bawah tulisan nama stasiun tersebut adalah mata.

Di antara dua mata terdapat hidung kucing, yang sejatinya adalah kanopi. Di bawah kanopi itu adalah mulut kucing atau pintu keluar masuk Stasiun Kishi. Di stasiun ini Tama berkarir sampai ajal menjemputnya. Nitama, yang sebelumnya berkantor di Stasiun Idakiso, kini menjadi pejabat baru di stasiun ini.

Sebenarnya, dengan kereta Kishigawa Line ini, pelancong di Prefektur Wakayama bukan hanya menikmati keunikan kereta dan stasiunnya, tetapi kereta ini juga menjadi sarana transportasi menuju tempat wisata seperti kebun stroberi di dekat Stasiun Kishi, kebun jeruk di Sando, rumah keluarga Nakasujike di zaman Edo, serta kuil tua dan bersejarah di wilayah tersebut. (foto: Joko Harismoyo)

Tuesday, 17 May 2016

Benteng Van Der Wijck nan Sunyi

Bentang Van Der Wick

Menari diiringi dengan piano. Syair lagu Piano karangan Bang Haji mengalun keras saat saya makan bakso dan tempe mendoan di Kampoeng Kuliner di kawasan wisata Bentang Van Der Wick di Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pertengahan Mei 2016. Awalnya, lagu itu tak menarik perhatian. Saya lebih suka meneliti menu pecel, dawet hitam atau soto yang tersedia di kantin tersebut.

Namun, saat saya pergi ke toilet yang letaknya di belakang kantin dan bersebalahan dengan kolam renang dan water park di kawasan tersebut, saya menjadi ngeh dengan lagu itu. Ternyata itu bukan suara Compact Disk. Ada penyanyi yang diiringi organ tunggal di tengah kolam besar. Kolam itu bersebalahan dengan kolam renang dan kincir angin serta berdekatan dengan kantin. Di panggung yang menonjol ke tengah kolam terdapat tulisan yang mengijinkan pengunjung untuk menyumbangkan lagu alias menyanyi dengan iringan organ tunggal. Untung saya nggak bisa nyanyi, jadi gak perlu mendaftarkan diri.

Pintu gerbang
Saat ini, tiket masuk ke Bentang Van Der Wicjk sudah dibandling. Dengan merogoh Rp25.000, kita sudah bisa naik kereta api dari gapura masuk untuk mengelilingi benteng seluas 3606,625 m2 dan tinggi 9.67m. Bisa pula naik kereta api wisata di atas benteng.

“Sekarang pakai mesin Suzuki Cary,” kata sopir kereta api di atas benteng ketika saya tanya mesin yang dipakai untuk menggeret kereta. Gerbong lama sudah rusak dan hanya ditaruh di atas genteng benteng, di dekat stasiun kereta api atas. Bonus paket tiket lainnya adalah berenang di kolam renang dan water park. Kalau pengunjung jauh seperti saya yang hanya mampir, dipastikan tak akan berenang. Wong tidak bawa baju renang plus waktu nan mepet.

Ruang tempat memajang foto-foto Bentang Van Der Wick
Sayang, tiket itu belum termasuk menginap di Hotel Wisata di lokasi tersebut (busyet Rp25.000 minta nginap gratis di hotel. Hotel melati kelas bawah pun kagak boleh segitu). Kamar hotel terlihat sederhana. Kursi di restoran hotel pada posisi tertelungkup yang berarti tak ada tamu yang menginap. Istri dan anak saya juga tak tertarik menginap di hotel itu karena takut aura mistis benteng. Kami memilih menginap di hotel jalan Ahmad Yani di dekat alun-alun Kebumen.

Dari gapura masuk saya memilih naik kereta. Sebenarnya gak jauh, hanya sekitar 100 meter. Tetapi dengan naik kereta, saya mengelilingi bentang, dari luar hingga masuk ke lapangan. Kereta menurunkan saya di pintu masuk benteng. Di kanan kiri pintu masuk yang melengkung itu, terdapat foto-foto benteng sebelum dipugar sampai saat ini. Juga foto-foto artis yang memanfaatkan lokasi tersebut untuk syuting. Ada band Slank yang syuting video klip lagu Punya Cinta pada 11 November 2011 serta syuting film  The Raid 2: Berandal, 18-25 Februari 2013.

Tangga ke lantai dua
Benteng ini dibangun pada 1818 seperti tulisan yang tertera di bagian kanan pintu masuk. Konon, pembangunan benteng diprakarsai oleh Jendral Van den Bosh di bekas kantor kongsi dagang VOC yang berada di Gombong yang dipersiapkan untuk melawan Kesultanan Yogyakarta (Perang Diponegoro 1825-1830).

Di lantai satu, bagian kanan dan kiri pintu masuk, tempat memajang foto-foto benteng dari masa sebelum dipugar hingga pemanfaatan saat ini, sudah direnovasi. Lantai diganti keramik warna coklat, dan tembok sudah dicat hijau tentara dan putih. Jangan heran kalau melihat anak-anak bermain sepeda di sekitar benteng. Maklum, di komplek ini terdapat perumahan tentara karena saat ini di sekitar benteng dijadikan sekolah calon tamtama tentara.

Arsiterktur Benteng Van Der Wijck berbentuk segi delapan dengan tebal dinding 1,4m. Struktur banteng sendiri terdiri dari 2 lantai . Lantai pertama memiliki 4 pintu masuk dan 16 kamar yang sangat besar dan terdiri dari 72 jendela, 63 pintu penghubung dan pintu keluar dan 8 tangga untuk mencapai di lantai 2 bangunan benteng ini. Kayu daun pintu dan teralis besi jendela banyak yang rusak. Sebagian teralis jendela diganti dengan kayu.

Kereta wisata di atas benteng
Di sebelah kanan, di dekat tempat memajang foto, tertulis ruang Studio Foto. Tak ada peralatan foto seperti kamera atau lampu. Yang ada hanya sebuah sepeda motor dengan atap warna biru, menyerupai warna langit cerah. Sepertinya pemotretan dilakukan di belakang motor karena terdapat pagar dan background untuk berfoto.

Lantai dua Benteng Van Der Wijck memiliki 70 pintu penghubung, 84 jendela dan 16 kamar yang ukurannya tergolong besar. Aroma mistis dan seram terasa saat menapaki tangga. Dinding berlumut dan sedikit terkelupas ditambah air yang menggenangi lantai, entah bocor atau tampyas dari jendela, membuat suasana agak menakutkan. Apalagi, di ruang itu hanya ada saya dan anak perempuanku.
“Sudah ah. Ayo keluar!” ajak anak saya. Karena alasan suasana mistis itu pula istri dan dua kaka ipar saya memilih makan pecel di kantin dan tak mau naik ke lantai dua dan atap benteng.

Dari ruang seram itu, saya naik tangga menuju kereta wisata atas benteng. Di ujung tangga naik, terdapat coretan-coretan anak alay. Ada yang menulisa namanya atau mengungkapan rasa cinta seperti Arif love (tanda love) Fita. Ini pos jaga apa pos cinta sih? Lagi-lagi hanya kami berdua yang akan naik kereta. Sepasang remaja yang saya kira mau naik kereta, ternyata hanya foto-foto di atas benteng. Jadilah, kami berdua berkeliling dengan kereta tua itu.

Pintu keluar
Bagian atas benteng menggunakan bata merah khas Belanda, tebal dan besar. Batu bata tanpa plester itu membuat rumput bisa tumbuh di sela-sela bata. Mungkin inilah yang menyebabkan kebocoran di lantai dua. Di lantai atas ini terdapat beberapa cerobong setinggi 3,33 meter dan empat pos jaga yang menghadap empat arah mata angin. Pos jaga ini untuk mengintai kedatangan musuh dari berebagai arah.

Salah satu pos jaga itu menjadi pintu keluar bagi penumpang kereta wisata atas benteng.Di tembok pos yang kusam dan tak terawat itu terdapat tulisan KELUAR/EXIT. Meski jelas-jelas tertulis pintu keluar, saya bertemu dua remaja naik melalui tangga tersebut. (Foto: Joko Harismoyo)

Thursday, 7 January 2016

Menapaki 18 Lantai Mercusuar Pulau Lengkuas, Belitung

Pulau Lengkuas
Cuaca hari itu kurang bersahabat. Dari pagi hingga siang, hujan plus angin mengguyur Belitung. Ombak nan tinggi membuat kami tidak bisa menyeberang ke Pulau Lengkuas di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Kami hanya memandang keangkuhan menara peninggalan Belanda itu dari kejauhan.


Perjalanan menuju Mercusuar
 Hari berikutnya (19 Desember 2015), sekitar pukul 07:00 WIB kami sudah berada di Pantai Tanjung Kelayang. Dan lagi-lagi hujan turun. "Ombak lebih kecil dari kemarin. Kita bisa menyeberang. Nunggu reda," kata Pak Rusdi, pemilik warung sekaligus pemilik kapal yang kami sewa.

Menunggu hujan reda, kami menyeruput kopi hitam dan menghabiskan dua ikat rambutan. Pak Rusdi dan crew menyiapkan beras dan bahan makanan yang akan dimasak untuk santap siang tetamu di Pulau Kepayang nanti.

"Ke Belitung paling bagus bulan April hingga September," jelas si guide. Saat itu, ombak tenang sehingga kita bisa mengunjungi semua pulau yang ada, termasuk Pulau Pasir. Kalau musim hujan seperti ini, Pulau Pasir tenggelam. Saya berkunjung ke Belitung pada 18-20 Desember 2015.

Akhirnya kami berempat naik ke perahu motor, didampingi 1 guide dan 2 crew kapal. Ombak masih cukup besar. Hanya memerlukan waktu 20 menit untuk merapat di tepi pulau.

Pemandangan indah sudah terlihat dari pinggir pulau. Pantai dengan taburan batu-batu granit nan besar dengan air jernih. Kami membayangkan, pemandangan jauh lebih memesona jika kami datang saat kemarau. Karena ombak besar, mimpi untuk snorkeling sudah kami hapus sejak kemarin.

Kami menuju mercusuar yang dibangun pada 1882 oleh Chance Brothers & Co di dekat kota Birmingham. Sebelum masuk, penjaga mercusuar meminta kami untuk membersihkan kaki dengan potongan busa. Maksudnya, agar pasir-pasir yang menempel di kaki kita tidak terbawa masuk ke mercusuar.

Mercusuar
Ketika kami datang, mercusuar ini baru saja direhab. bau cat masih menyengat. Besi yang sebelumnya berkarat menjadi kinclong. Akibatnya, lantai menjadi lebih licin karena bercampur air hujan yang menerobos dari jendela.

Posisi jendela pandang di tiap lantai berselang-seling. Misal, lantai 1 jendelanya menghadap ke arah timur dan utara, lantai 2 jendelanya menghadap ke barat dan selatan. Dan pada lantai 3, jendelanya kembali menghadap kearah timur dan utara, begitu seterusnya.

Bangunan mercusuar semakin ke atas semakin kecil. Jumlah anak tangga pada lantai dasar adalah 18. Lantai 1-10 masing-masing memiliki 17 anak tangga, sedangkan lantai 11-13 memiliki 16 anak tangga. Lantai 14-16 memiliki 15 anak tangga, lantai 17 memiliki 13 anak tangga, dan lantai 18 (lantai teratas) memiliki 8 anak tangga. Total memiliki 313 anak tangga.

Anak tangga
Hari itu kami adalah pengunjung pertama yang naik mercusuar. Guide yang sudah 3 tahun tak pernah naik menara setinggi 65 meter itu, akhirnya ikut naik. Dia ingin melihat hasil renovasi mercusuar yang berfungsi membantu navigasi kapal-kapal untuk keluar masuk Tanjung Binga.

Bangunan tinggi, licin akibat air hujan, plus tangga yang makin menyempit membuat kami harus istirahat di lantai 10. Mengambil nafas beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan yang cukup melelahkan itu. Kami sempat mengambil pemandangan pantai dari lantai ini.


Perlahan-lahan sampailah kami di lantai tertinggi, lantai 18. Terbayarkan sudah kelelahan kami. Dari lantai ini kami bisa mengeksplor pemandangan dengan kamera ala kadarnya, kamera HP plus action camera karena kamera DSLR kami tertinggal di mobil yang diparkir di bandara Soekarno Hatta, Tangerang. (*)

Ruang di Mercusuar

Jendela untuk melihat pemandangan
Pemandangan dari atas Mercusuar

Bagian atas menara

Bukan Hitam Putih

  Michelin adalah perusahaan ban asal Prancis. Ketika penjualan ban melempem, sekitar 1900-an, mereka malah menerbitkan buku panduan restor...