Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, 23 January 2020

Terkecoh


Ketika ponsel masih menjadi barang mewah, Iwan sudah memilikinya. Sebagai eksekutif muda di bank ternama, gadget adalah keharusan. Kapan saja, ia harus siap ditelepon, baik oleh bos maupun klien. Oleh karenanya, nomor telepon tak dikenal pun harus diangkat. Siapa tahu klien baru atau calon klien yang akan mengajukan kredit miliaran rupiah.


Siang itu, saat makan siang di restoran bersama teman-teman, dering telepon berbunyi. "Selamat siang Bapak Darmawan. Apakah sore nanti kita jadi ketemu di Starbucks?" suara wanita muda. Renyah dan riang.

"Siang juga. Maaf, ini nomor Iwan. Bukan Darmawan. Mungkin ibu salah sambung," kata Iwan ramah.

"Maaf. Saya salah nomor. Sorry sudah mengganggu," katanya sambil menutup telepon. Iwan melanjutkan makan. Tak memikirkan wanita tadi.

Selang 30 menit, saat Iwan merokok di tempat parkir, nomor yang sama kembali menelpon. "Kamu jahat. Sudah ada yang baru ya sampai-sampai kamu bilang salah sambung," ujarnya nerocos.
Iwan terdiam. Ia tak kenal dengan wanita itu. Juga nomor teleponnya. "Maaf, ini bukan Darmawan. Saya Iwan. Tolong jangan mengganggu?"

Terdengar suara isak tangis. Pelan dan perlahan-lahan menghilang. Iwan mendengarkan sedu tangis itu. Ia tak tega memutus telepon.

"Janjine lungane ra nganti suwe suwe. Pamit esuk lungane ra nganti sore. Janjine lungo ra nganti semene suwene. Nganti kapan tak enteni sak tekane." Terdengar suara Cindy menahan tangis saat menyanyikan lagu Banyu Langit dari Didi Kempot. Suaranya merdu. Nadanya pas dengan penghayatan yang sempurna. Sedih ditinggal pacar.

"Bagus suaranya. Sudah yah. Saya mau kerja lagi," kata Iwan sambil memutus telepon. Ia tak ingin larut dalam romantika cinta Cindy.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi tit..tit..tit... tanda SMS masuk. Iwan membuka. "Mas, boleh kenalan? Kalau boleh nanti saya ingin cerita banyak. Kapan bisa ditelepon?" Ditaruhnya ponsel di samping komputer. Iwan kembali membuat laporan pengajuan kredit yang diusulkan oleh nasabahnya.

Sebelum pulang, Iwan ingat SMS dari gadis melankolis tadi. "Boleh. Besok pagi saja kalau mau telepon. Jam 07:00 saya sudah di kantor. Bisa 20-30 menit. Iwan," balas Iwan singkat. Setelah SMS dikirim tak ada lagi balasan.

                                                                                ***
Jarum jam belum menunjukkan pukul 07:00, tetapi Cindy sudah mengirim SMS. "Nanti jam 07:00 saya telepon. Paling 5-10 menit karena saya ada kuliah pagi."

Tak lama kemudian, telepon Iwan berdering. Ia segera mengangkat. "Mas Darmawan jahat!" Terdiam sesaat, lalu dilanjutkan, "Maaf saya bukan menuduh kamu Mas Darmawan. Saya hanya ingin menceritakan kalau apa yang dilakukan Mas Darmawan benar-benar kebangetan," sambungnya.
"Memang apa yang terjadi? Saya benar-benar enggak ngerti," kata Iwan.

"Mas Darmawan telah membohongi aku," jelas Cindy, yang kini mulai mengganti kata saya dengan sebutan aku dan memanggil Iwan dengan Mas. "Aku pacaran hampir setahun, Mas. Katanya, ia masih lajang. Enggak tahunya kemarin istrinya marah-marah ke aku. Nuduh aku pelakor."

"Wanita mana yang mau menjadi pelakor? Sesama wanita enggak mungkin aku menyakiti. Aku benar-benar dibohongi. Kalau dari awal dia ngaku sudah beristri, aku enggak mungkin mau jalan bareng. Gila apa!"

Cindy terus saja nerocos. Menceritakan kekesalannya pada Darmawan, kekasih yang telah menipunya. Sementara Iwan hanya diam. Menjadi pendengar yang baik dan tak tahu apa yang harus dikatakan.

"Enggak semua laki-laki seperti Darmawan. Kamu sedang apes saja pacaran dengan pria macam dia," kata Iwan mencairkan suasana. "Lupakan saja. Katanya ada kuliah pagi. Kuliah di mana?

"Iya. Ya sudah. Saya kuliah di kedokteran, semester tujuh. Boleh kan kalau ada waktu senggang aku telepon Mas," balas Cindy sambil menutup percakapan di ponsel.

Sejak itu,  Cindy rajin menelepon Iwan. Sekedar menanyakan kabar atau mengingatkan Iwan agar tak lupa makan siang dan menjaga kesehatan. Kadang, Cindy yang memiliki suara merdu dan melankolis menyanyi melalui telepon dan meminta Iwan untuk mendengarkan kemudian menilai.

"Wis tak coba, Nglaliake jenengmu, Soko atiku, Sak tenane aku ora ngapusi Isih tresno sliramu…."
"Bagaimana Mas, nadanya pas enggak. Pitch controlnya bagaimana?" tanya Cindy setelah menyanyikan lagu Sewu Kuto, juga karya Didi Kempot.

Iwan yang tak paham teori menyanyi memilih menghindar. Tak mau menilai. "Kok senang lagu Didi Kempot kenapa?"

"Atiku ambyar, Mas. Berkeping-keping karena selalu gagal dalam pacaran. Ditinggal pacar, dikhianati. Sakit," ujar Cindy perlahan sambil menahan tangis. Iwan jadi salah tingkah. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

"Hmmm...ntar sambung lagi ya. Saya ada meeting. Oh iya, kalau malam enggak usah telepon yah. Kadang enggak dengar," kata Iwan.

"Oke. Mas Iwan juga enggak usah telepon aku kalau malam. Papa aku galak banget. Aku gak boleh pacaran sebelum lulus. Takut ngganggu kuliah. Kalau telepon aku yang angkat laki-laki langsung matiin aja. Itu papaku. Nanti diinterogasi," balas Cindy.

Siang itu mereka sepakat untuk tidak melakukan panggilan pada malam hari, dengan alasan masing-masing.

                                                                                * * *
Setelah seminggu Cindy rajin menghubungi Iwan keduanya semakin dekat. Pagi hari, sebelum jam kantor, adalah saat yang tepat bagi keduanya untuk bercerita. Lebih tepatnya, Cindy yang bercerita dan Iwan mendengarkan dengan seksama. Iwan tahu, Cindy butuh pendengar yang baik.

“Duh, tugasku banyak nih. Pagi-pagi gini sudah ke kampus. Nanti ada seminar tentang kegunaan air putih bagi kesehatan. Kalau Mas Iwan ada waktu bisa datang ke kampusku. Seminarnya seharian kok. Sekalian kita ketemu. Masak cuma telepon melulu. Enggak pengen ketemu aku, Mas?” kata Cindy pada Selasa yang cerah.

“Siapa sih yang enggak pengen ketemu kamu. Cantik, pinter dan jago nyanyi.  Tetapi hari ini aku enggak bisa. Ada meeting sampai jam 11:00. Habis lunch aku harus ke klien di Pluit. Jauh kan dari kampusmu ,” jawab Iwan. Ia berjanji, aku mencari waktu tepat untuk bertemu.

Sekian lama hanya bersapa lewat  suara, Iwan dan Cindy mulai merancang pertemuan. Mereka belum tahu wajah masing-masing. Zaman itu, belum ada aplikasi pesan semacam WhatApps sehingga mereka tak kenal wajah. Hanya mabuk suara. Suara merdu yang bikin makin rindu. Paling banter, rayu-merayu melalui SMS.

“Bagaimana kalau kita ketemu Rabu, pas makan siang?” Tanya Cindy. Iwan belum mengiyakan. Ia akan mengecek jadwal terlebih dahulu. Ada meeting atau pertemuan lainnya. Setelah dipastikan hari itu jadwalnya kosong, mereka sepakat bertemu di sebuah restoran ayam goreng yang tak begitu ramai. Tempat itu dipilih karena sepi sehingga memberikan ruang lebih leluasa untuk saling bercerita. Melepas kangen yang tertunda.

“Aku pakai kerudung biru. Mas Iwan mau pakai baju apa?” Tanya Cindy. Iwan berpikir sejenak. Ia tak biasa memikirkan baju yang akan dipakai dua hari ke depan. “Aku juga pakai baju biru. Dasi senada,” jawab Iwan singkat.

Kamis siang, seperti yang dijanjikan. Iwan datang ke mall. Ia meminjam mobil teman. Cindy tak mau kalau pergi dengan taksi karena merasa tidak nyaman. Setibanya di mall yang dijanjikan, Iwan langsung menuju ke resto ayam, tempatnya untuk bertemu.

Sebagai pria berpengalaman, Iwan tak memakai baju biru seperti yang dijanjikan. Jika nantinya penampilan Cindy tak sesuai harapan, ia bisa berkilah. Hari ini, ia mengenakan baju putih dipadu dasi abu-abu.

Iwan mondar-mandir di depan restoran ayam goreng. Tak ada gadis muda berkerudung biru. Saat melongok untuk ketiga kalinya, wanita bergamis hitam dan temannya menyapa, “Mas Iwan ya?”

“Bukan, saya Hasto,” jawab Iwan gugup. Ia pun duduk di kursi dan melihat menu makanan. Tiba-tiba teleponnya bordering. Cindy yang menelponnya. Ketika diangkat, wanita bergamis hitam dengan tubuh khas emak-emak berusia 50 tahunan yang berbicara.

“Ih kenapa Mas Iwan bohong,” ujar Cindy sambil duduk di depan Iwan. “Biar kamu penasaran,” jawab Iwan sekenanya.

“Mau pesan apa untuk maksi?”

“Enggak usah. Nanti saja. Gampang,” jawab Iwan yang kehilangan selera makan begitu melihat wajah Cindy.

“Kalau gitu kita nonton saja,” sergah Cindy.  Keduanya keluar resto menuju gedung bioskop yang ada di dekatnya.

“Toilet di sebelah mana ya?”

“Di sana,” jawab Cindy sambil menunjuk ke arah utara.

Iwan segera menuju toilet, lalu menghilang dari tangga darurat. Menemui teman yang memberi pinjaman mobil. Mereka menuju café shop. Ngopi sambil mentertawakan ketotolannya.  ***

Thursday, 24 November 2016

Mendadak Nikah


Malam Jumat itu Riko sengaja pulang lebih cepat dari biasanya. Rintik hujan di stasiun diterabas. Jas hujan seharga sepuluh ribu rupiah mampu melindungi tubuh kurusnya dari percikan air hujan.

Sesampai di rumah, ia merebahkan tubuh di sofa, persis di depan TV yang sedang memutar acara Golden Memories. Acara yang dibenci anak-anak Riko karena menampilkan artis lawas dengan lagu-lagu mendayu tempo dulu. Sesuatu yang tak kekinian bagi anak-anak muda sekarang.

"Golden bangeetsss," ujar salah satu juri wanita sambil memiringkan kepala ke pundah, diikuti seluruh penonton. Riko tersenyum. Entah sinis atau geli dengan ulah juri itu. Suaranya mendayu-dayu, super melow. Kadang, jadi bahan candaan tiga host. Tapi, tindakan aneh ini justru kadang menjadi daya tarik tersendiri.

Suara bel rumah mengangetkan Riko. Hanya bersinglet, Riko membuka pintu. "Pak, diundang ke rumah Badrun untuk pengajian," ujar tamu tanpa merinci apa maksud dan tujuan pengajian tersebut. Riko pun tak bertanya karena biasanya tiap malam Jumat digelar pengajian rutin. Tempatnya berpindah-pindah. Ia berpikir, mungkin ini jatah Badrun, tetangga depan rumahnya. Riko kembali duduk, menonton TV.

Salah satu juri pria menyanyikan lagu berjudul Preman. Suara dan semangatnya masih sama dengan puluhan tahun silam. Serak. Hanya, nafasnya sudah terengah-engah. Tak sehebat waktu muda.

Mau mandi masih malas. Gerimis belum juga reda. Air di penampungan, meski tak terkena hujan langsung, pasti dingin terpapar dinginnya angin malam. Lagi pula, acara TV menarik. Bukan karena penyanyi atau jurinya. Tapi, penonton acara itu adalah teman-teman seangkatan saat SMA. Di antara mereka terdapat Menik, mantan kekasihnya. Meski sudah tak muda, sisa-sia kecantikan dan kenes Menik masih terlihat. Dia menyanyi sambil menggerakkan tangan ke kanan kiri, mengikuti arahan floor manager. Berkerudung pink, penampilan Menik sepuluh tahun lebih muda dari umur sebenarnya.

Riko tersenyum. Mengenang masa muda saat mereka menonton film Warkop DKI di Magelang Theater, gedung paling keren di kota tersebut. Sebelum nonton, mereka mampir ke Es Semanggi di dekat gedung itu. "Cepetan mandi! Diundang pengajian kok lelet," gerutu istri Riko.

Ia tahu, bukan malas mandi yang membuatnya marah. Tapi, penampilan centik Menik di TV yang membuatnya cemburu. "Maaf, Pak. Sudah ditunggu. Pengajian akan dimulai," tambah tetangga sebelah yang tiba-tiba nyelonong masuk ke rumah Riko.

Riko memilih koko putih yang masih tampak baru karena hanya sekali dipakai saat Lebaran. Dipadu peci dan sarung hitam, Riko tampak religius. Apalagi jenggotnya dibiarkan memanjang, meski hanya beberapa helai.

                                                                           ***
Dia melangkah ke rumah Badrun. Setelah mengucapkan salam dan menyalami seluruh tamu yang ada di teras, dia merapatkan jari-jari di depan dada seperti orang bersalaman, lalu membungkuk ke arah tamu yang ada di ruang dalam. Memberi hormat karena tidak mungkin menyalami semua tamu di dalam.

"Masuk dalam saja, Pak. Sini kosong," kata Badrun sambil menggeser tempat duduknya sehingga menyisakan ruang kosong. Pemuda yang berada di teras juga menyilakan Riko masuk. Tokoh masyarakat tak pantas duduk bersama anak muda yang lebih banyak bercanda saat pengajian berlangsung.

Beberapa tokoh masyarakat sudah datang. Pengajian belum dimulai, ketua RT yang sedang dalam perjalanan. "Bentar ya pak. Nunggu Pak RT. Lagi ke sini," ujar Badrun sambil mengeluarkan rokok, makanan ringan dan kopi. Jamaah diam. Mereka asyik merokok atau makan kacang rebus sambil mengobrol sendiri.

"Suara Iis keren. Bajunya sopan. Kayaknya dia bakal juara," ujar seorang jamaah mengomentari kontes penyanyi dangdut di sebuah televisi yang sudah memasuki babak final. "Bagusan Wiwik. Cengkoknya pas banget. Goyangannya oke," tambah jamaah lain.

Diskusi mengenai siapa yang bakal menjadi juara kontes itu berlangsung seru. Mereka sepertinya lupa kalau diundang di acara pengajian, bukan dukung-mendukung biduan pantura. Di tengah perdebatan seru, ketua RT masuk teras. Semua diam, menjawab salam dilanjut bersalaman. Ketua RT duduk di sebalah kanan Badrun.

"Berhubung Pak RT sudah datang, acara kita mulai. Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena hanya berkat rahmat dan karunianya kita bisa berkumpul di sini. Saya mengucapkan terima kasih kepada jamaah  yang sudah menyempatkan diri datang ke gubug saya,\" ujar Badrun membuka acara.

Dia berhenti sejanak, menarik nafas dalam-dalam, kemudian melanjutkan, "Saya mengundang bapak-bapak ke sini untuk menyaksikan akad nikah anak saya, Ratna dengan pria pilihannya, Galuh."
Jamaah diam. Kaget. Termasuk Riko. Dia Gak menduga kalau malam ini adalah akad nikah Ratna. Tidak ada tanda-tanda ke arah situ. Di rumah Badrun pun tak ada tetangga atau orang yang sibuk memasak. Juga tak ada tamu jauh ataupun saudara-saudara Badrun. Tak ada juga tenda sebagai pertanda akan berlangsungnya hajatan.

"Mungkin jamaah bertanya, ada apa saya menikahkan Ratna? Saya tegaskan, tidak ada apa-apa. Seperti diketahui, saat ini Ratna kost di Yogyakarta. Di sana ia memiliki teman dekat pria. Dalam Islam, kita tidak mengenal pacaran. Saya khawatir kalau terjadi apa-apa, saya ikut menanggung dosa. Untuk mencegah itu, maka malam ini akan saya nikahkan," jelas Badrun.

Dia kembali menarik nafas dalam-dalam. Lalu mengundang Ratna dan Galuh untuk masuk ke ruang tamu. Ratna mengenakan baju muslim warna putih, sedangkan Galuh memakai jas dengan celana jeans. Mereka duduk di hadapan Badrun.

"Saya mohon Pak Ustadz menjadi saksi pernikahan ini," ujar Badrun ke arah ustadz yang duduk tak jauh darinya. Ustadz mengangguk. Badrun sendiri yang akan melangsungkan ijab kabul karena ia memang seorang penghulu.

"Mana mas kawinnya, keluarkan!" kata Badrun kepada Galuh. Galuh melepas jam yang dipakai di pergelangan tangan kanan, kemudian memasukkannya ke dalam kotak warna putih. Badrun mengumumkan kepada jamaah, bahwa persyaratan pernikahan sudah lengkap. Sudah ada calon mempelai, ijin wali, saksi, mahar sehingga tinggal melangsungkan pernikahan.

Badrun menjabat tangan Galuh, disaksikan seluruh jamaah. "Saudara Galuh bin Yahya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan gadis yang bernama Ratna binti Badrun dengan mas kawinnya berupa jam tangan dibayar tunai," kata Badrun sambil menggetarkan jabat tangan agar Galuh segera menjawab. "Saya terima nikah dan kawinnya Ratna binti Badrun dengan mas kawin yang tersebut tunai," ujar Badrun mantap.

"Bagaimana jamaah, syah?" seru Badrun. Seluruh jamaah menjawab serentak, "Syah." Wajah Badrun, Galuh dan Ratna tampak lega. Kedua mempelai mengelilingi jamaah untuk bersalaman. Kemudian ustadz diminta memberikan khotbah nikah. Ustadz yang tak ada persiapan apapun tampak gugup. Khotbah berlangsung singkat dan padat.

                                                                         ***

Malam hari itu, berita pernikahan Ratna dan Galuh menyebar. Entah melalui medsos atau dari mulut ke mulut. Yang jelas, pagi hari, ketika mereka membeli nasi uduk untuk sarapan, berita tersebut mendapat rating paling atas. Kasuk-kusuk. Ditambah bumbu-bumbu penyedap dari masing-masing orang.

"Kok mendadak amat sih. Jangan-jangan...," ujar seorang ibu sambil menutup mulutnya. Pembicaraan kian seru. Selain mendadak, pernikahan Ratna dan Galuh tak dihadiri oleh keluarga Galuh, termasuk termasuk orang tuanya. Hampir seminggu lamanya, berita ini menjadi gosip. Makin besar dan bermacam-macam versi. Lama-kelamaan Badrun gerah juga.

"Galuh, untuk menghentikan gosip pernikahan kalian, Bapak minta minggu depan Galuh mengajak ibu ke sini," ujar Badrun kepada menantunya. Selama ini, ibu Galuh tidak tahu kalau anaknya sudah menikah dengan gadis pilihannya. Sedangkan, ayahnya, menurut tutur ibunya, menghilang saat Galuh berusia enam bulan.

"Dia menikah lagi dengan gadis kota," kata ibu Galuh sambil menangis saat menceritakan ayahnya. Sebenarnya Galuh belum siap memberitahu ibu yang kini menjadi orang tua tunggal. Dia meminta Galuh menyelesaikan studi dulu sebelum menikah. Tapi, karena mertua terus mendesak, akhirnya Galuh memberanikan diri. Memberi tahu pernikahannya dengan Ratna dan mengajak ibu berkunjung ke besan.

Badrun siap menyambut besan. Dia memasang tenda biru di depan rumahnya dengan deretan kursi yang dilapisi kain putih. Dia ingin membuktikan kepada tetangga kalau pernikahan anaknya adalah pernikahan yang wajar. Tak hadirnya orang tua Galuh bukan berarti mereka tidak merestui pernikahan tersebut.

Galuh dan ibunya tiba di rumah Badrun pagi hari, sekitar pukul 05:00 WIB. Mereka duduk di ruang tamu, menunggu Badrun yang sedang mandi. Ratna dan istri Badrun menemui Galuh. Mereka bercakap-cakap. Ibu Galuh lebih banyak diam. Mengamati wajah istri Badrun dan Ratna.

"Bikinin teh hangat untuk ibu. Kan capai naik kereta semalam," ujar istri Badrun, menyuruh Ratna untuk membuat teh manis hangat bagi ibu mertua.

Ratna masuk. Tak lama kemudian ia membawa nampan berisi lima gelas teh hangat."Silakan diminum!" ujar istri Badrun. Ibu Galuh mengambil segelas teh, menyerutup teh hangat itu. Tubuhnya yang kedinginan terkena AC kereta mulai sedikit hangat. Perutnya pun terasa lebih enak. Tapi, dia masih diam. Ia syok dengan kenekadan Galuh yang menikah secara diam-diam, tanpa memberitahu wanita yang sudah mengandung dan membesarkannya.

Di saat ibu Galuh larut dalam lamunan, masuklah Badrun ke ruang tamu. Badrun tertegun. Memandang ibu Galuh nanar. Mulutnya terkunci. Tak bisa berkata-kata. Ibu Galuh tersadar dari lamunan. Menatap Badrun, lalu berdiri dan berteriak, "Badrun!!!". Tubuhnya lemas, pingsan.
Ketika tetangga berdatangan menolong ibu Galuh, Badrun terdiam. Ratna, Galuh dan istrinya menatap Badrun tajam-tajam. Tatapan penuh kebencian dan amarah. ***



Saturday, 5 November 2016

Perempuan Siap Saji

Hampir seluruh rambut Firman berwarna keperakan, sesusai usianya yang tiga bulan lagi pensiun. Meski tak lama lagi berkantor, semangat Firman masih menyala. Datang pagi, sebelum pegawai muda berdatangan, dan pulang larut malam. Tak ada tanda-tanda mengendor.

Sayang, laporan dari bagian SDM, kinerja Firman tak lebih baik dibanding sebelumnya, biasa-biasa saja. Alasan ini yang mengurungkan niat kantor untuk memperkerjakan Firman sebagai karyawan kontrak pasca purna tugas.

"Ngopi yuk!" ajak Firman pada Ricka, teman sekantor yang usianya separo dirinya. Saat itu, sebagian karyawan sudah pulang karena jarum jam menunjukkan pukul 19:00 WIB. Mayoritas pegawai pulang sebelum atau sesudah magrib. Biasanya jam 18:30 kantor sudah sepi. Tinggal office boy dan sebagian anak IT yang memang piket malam.

Ricka tersenyum lalu berdiri. Keduanya berjalan menuju lift, masuk dan memencet lantai Ground Floor, tempat Starbucks, kedai kopi asal Amerika Serikat itu berada. "Mas, aku Green Tea Latte aja," ujar Ricka sambil memegang pundak Firman. Seperti biasa, Firman memilih Brewed Coffee meski berulang kali dokter mengingatkan Firman untuk menghindari minum kopi dengan alasan kesehatan.

"Bandel ya masih ngopi," kata Ricka sambil meremas jari Firman. Tatapan matanya beradu. Saling pandang, lalu tersenyum. Firman mencoba tenang, meski detak jantungnya bergerak lebih cepat walau belum sempat mencicip kopi hitam tersebut.

Baru kali ini Ricka berani memegang jari Firman. Tiga bulan terakhir, Firman terus yang memulai. Menggandeng tangan Ricka saat turun ke cafe. Membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Ricka duduk di kursi depan, di samping dirinya. Kembali membuka pintu mobil saat Ricka sampai ke apartemen sewaannya.

Selama tiga bulan tersebut, Firman memperlakukan Ricka bak putri. Namun, karena bukan ABG lagi, ia bisa melihat situasi dan kondisi. Di depan kolega, Firman tetap terlihat profesional. Hanya membicarakan urusan pekerjaan.

Urusan pribadi dimulai ketika mereka hanya berdua. Setidaknya, teman kantornya sudah pulang sehingga tidak menimbulkan kecurigaan, apalagi kegaduhan. Itu pun tak mencolok. Tak ada percakapan mesra. Mereka berkomunikasi intens melalui aplikasi WA. Layaknya ABG, dalam berkomunikasi mereka juga menggunakan ikon emoji. Tanda bibir, apel atau orang tertawa. Tak ada yang tahu tingkah Firman dan Ricka, kecuali mereka berdua.

Di awal perkenalan, Ricka enggan menanggapi sapaan Firman. Lelaki ini lebih pantas menjadi ayahnya. Usia mereka terpaut jauh. Dia baru masuk kerja, sementara Firman tiga bulan lagi akan pensiun. Dua kutub yang berlawanan.

Firman pun semula tak memperhatikan Ricka. Namun karena Ricka bawahannya dan baru saja lulus kuliah, mau tidak mau, Firman harus mengajari. Membimbing membuat laporan keuangan yang benar. Memilah-milah pengeluaran dan memasukkan sesuai pos yang sudah ditentukan agar manajemen mudah melihat biaya operasional perusahaan.

Meski lulus dengan IP tinggi dan dari kampus ternama, namun Ricka belum bisa dilepas begitu saja. Sebagaimana perguruan tinggi di Indonesia, lulusannya belum siap kerja. Mereka masih dalam tahap siap latih. Jadi tetap membutuhkan supervisor dalam mengerjakan tugas sehari-hari.

Karena sering bertemu, obrolan Firman dan Ricka bukan hanya soal pekerjaan. Kadang mereka cerita masalah pribadi. Ricka yang belum mengenyam asam manis kehidupan sering menceritakan perilaku suami yang menurutnya kurang bertanggung jawab.

"Kalau temennya datang, dia bisa pergi sampai subuh. Tak memedulikan saya yang menunggu sepanjang malam di depan televisi," keluh Ricka suatu ketika. Firman mendengarkan cerita Ricka dengan seksama. Tak menyudutkan suami Ricka, tetapi juga tidak memberi saran apa-apa.

"Saya yakin, kalau dibicarakan ada jalan keluarnya. Tetapi saya heran kenapa ada pria yang membiarkan istri seperti Ricka di rumah sendirian. mau cari yang secantik apa sih?" kata Firman dengan tatapan mata tajam ke Ricka.

Tatapan yang menghujam ke ulu hati seperti ini sudah setahun sirna dari kehidupan Ricka. Badrun, suaminya, tiap pulang kerja istirahat sebentar kemudian nonton TV sambil memegang HP. Pang ..ping...pang....ping. Bunyi pesan masuk bersautan. Dan Badrun lelap dalam dunianya sendiri. Tak peduli Ricka sedang menanti sapaan dan belaian darinya.

"Minggu depan saya ke Medan. Ke kantor cabang. Ricka bisa ikut?" ujar Firman memecahkan lamunan Ricka. Firman segera melanjutkan, "Ini tugas luar kota terakhir saya. Masak Ricka gak bisa nemanin. Saya sudah mengajukan usulan ke pimpinan dan disetujui.”

Ricka terdiam. Ada sejengkal kejengkelan di sana. Buat apa bertanya kalau usulan itu sudah disetujui atasan. Katakan saja ini perintah sehingga harus dijalankan. Tidak perlu berbasa-basi. Seandainya bukan perintah pun, dia bersedia ikut. Inilah kesempatannya untuk berdua dengan Firman dan melepas kepenatan bersama Badrun.

"Nanti saya ijin ke suami dulu. Mudah-mudahan dia tidak keberatan karena sudah disetujui pimpinan," ujar Ricka dengan mata berbinar. Tangannya meraih Green Tea Latte panas di depannya. Menyerutup sambil mencuri pandang pada Firman. "Waktu muda pasti ganteng juga nih bapak," batinnya.

"Besok kabari ke saya, bisa atau tidak. Karena akan pesan tiket pesawat sekaligus booking kamar hotel," ujar Firman. Tangannya mengambil ponsel, lalu mengirim WA ke istrinya dan mengabarkan kalau minggu depan dia akan ke Medan untuk meninjau kantor cabang sehingga rencana ke Pulau Seribu bersama anak bungsunya terpaksa ditunda. Tak lama kemudian, istri Firman membalas, "Tidak apa-apa, Pa. Mama sudah bilang ke Putri. Tapi akhir bulan ini mesti ke sana."

Sehabis ngopi, seperti biasa, Firman mengantar Ricka ke apartemennya. Saat mobil berhenti, Firman memegang jari Ricka. Menatapnya tajam lalu mengecup keningnya. "Besok pagi kabari saya ya?"
Ricka terdiam. Jantungnya berdetak cepat. Dia menduga Firman akan mencium bibirnya. Tetapi, kecupan di kening itu tetap membuatnya deg-degan, seperti gadis SMA yang menerima setangkai mawar dari cowok yang menembaknya.

                                                                          ***

Sebagaimana biasanya, jam 07:00 Firman sudah duduk di meja. Mengecek email yang masuk, membalas yang perlu direply, serta menghapus email yang kurang berguna seperti penawaran asuaransi, penawaran mobil sampai penawaran kartu kredit premium. "Saya bisa ikut, Pak. Sudah dapat ijin," kata Ricka setelah duduk di samping Firman.

"Oke, nanti tiket biar diurus sekretaris. Saya akan booking hotel sendiri," jawab Firman dengan mata masih menatap layar laptop. Tak sempat melihat Ricka yang tampil lebih fresh dibanding hari biasanya. Dia mengenakan blazer hitam dipadu dalaman warna pink. Terlihat lebih muda.

Firman melanjutkan browsing. Membuka situs untuk memesan kamar hotel. Dia memesan suite room hotel bintang lima.  "Ricka, lihat sini. Kita menginap di sini saja yah. Bagus pemandangannya," ujar Firman dengan sorotan mata bimbang. Takut kalau Ricka menolak menginap di suite room dan memilih kamar sendiri, terpisah dengan Firman.

Ricka melihat layar laptop Firman. Terdiam. Tak bereaksi apapun. Sebagai lelaki dengan jam terbang tinggi, Firman mengerti. Sikap diam Ricka berarti menyetujui ajakannya. 'Diam berarti setuju' adalah rumus yang umum dipakai lelaki saat tak ada jawaban dari wanita.

                                                                          ***  

Para penumpang yang terhormat. Dengan permohonan maaf, kami umumkan bahwa penerbangan malam ini terpaksa dibatalkan. Para penumpang diminta untuk bersiap-siap menuju hotel. Pihak kami akan menyediakan mobil untuk transpor ke hotel. Terima kasih," bunyi pengumuman di ruang tunggu bandara itu mengagetkan Firman dan Ricka. Mereka sudah sejam menunggu pesawat. Semula mereka mengira hanya terjadi penundaan, bukan pembatalan penerbangan.

Pembatalan penerbangan malam ini membuyarkan semua rencana Firman. Dia tak jadi menginap di suite room yang telah dipesannya. Penerbangan hari berikutnya pun pukul 09:00 WIB sehingga tiba di Medan sekitar jam 12:15.

Butuh waktu sekitar 15 menit untuk keluar dari Bandara Kualanamu (KNO), Untuk lunch dan perjalanan ke kantor cabang memerlukan waktu dua jam. Padahal, dia harus meeting mulai pukul 15:00. Nyaris tak ada waktu untuk berdua, bersama Ricka. Tiket return Medan - Jakarta pukul 22:00. Jadwal padat.

"Kesempatan hanya malam ini," gumam Firman. Matanya menerawang langit-langit, mencari inspirasi agar bisa mengajak Ricka pindah ke kamarnya. Pun, ia yakin Ricka tak keberatan karena kalau jadi menginap di Medan, toh mereka juga satu kamar.

"Untuk penumpang pria mohon naik ke bis warna biru, sedangkan penumpang perempuan bis warna putih. Kecuali pasangan suami istri," pengumuman yang membuyarkan lamunan Firman. Terpkasa, dia harus berpisah dengan Ricka. Bukan sekedar bis yang mereka tumpangi. Maskapai tersebut menyedikan gedung yang berbeda untuk pria dan wanita.

Hotel tersebut memiliki tiga gedung bertingkat. Satu gedung khusus wanita, satu gedung untuk pria dan satu lagi untuk pasutri. Security gedung akan melarang lawan jenis masuk ruangan, kecuali di gedung pasutri. Untuk menginap ke gedung pasutri harus menyerahkan fotocopy surat nikah atau minimal mempunyai alamat tinggal yang sama.


Tiba di kamar hotel, Firman merebahkan badan ke tempat tidur, tanpa melepas baju, dasi dan sepatu. Dia terbangun ketika resepsionis hotel meneleponnya atas permintaan Ricka. Mereka harus berbegas menuju bandara agar tak terlambat. *

Wednesday, 26 October 2016

Makanan Jin

Ilustrasi : K-Cartoon
Sampai detik ini aku masih yakin jika jin dan setan itu nyata-nyata ada. Mereka ada di mana-mana, berhimpitan dan berdesakan dengan warga ibukota Jakarta. Mereka juga berkembang biak layaknya manusia.

Yang menjadi pertanyaanku selama ini adalah apa makanan mereka. Sebagai mahkluk hidup, untuk berkembang dan beranak pinak, tentu membutuhkan asupan gizi. Karena mereka tak tampak, makanannya pun tentu berbeda dengan manusia.

Kalau merujuk ke agama yang aku anut, makanan jin dan setan adalah tulang dan kotoran (tahi). Keyanikan yang kupercaya selama puluhan tahun ini perlahan-lahan memudar seiring dengan penemuan baru soal makanan jin dan setan.

Temanku, Habib Resek yang juga keturunan Timur Tengah, mengatakan kalau makanan jin adalah upil alias kotoran hidung yang berwarna hijau kehitaman.

"Tolong upil ente tiap hari disimpan di sini," ujar Habib pada Atmo, tetangganya. Sambil berkata, Habib memberikan uang seratus ribu rupiah.

"Untuk apa upil itu Habib?" tanya Atmo.

"Untuk makan jin peliharaan ane," jawab Habib pendek.

Tiap hari Atmo rajin mengupil. Kalau upilnya sedikit dia resah. Termenung di depan toko mebel orang tuanynya sambil memandang jalan raya. Dia browsing, mencari cara bagaimana meningkatkan kadar upilnya agar bertambah.

Upaya Atmo sia-sia. Upilnya konstan. Paling banter mendapat 10-15 upil besar dengan warna hijau kehitaman. Kadang, malah tak dapat upil kalau sedang dilanda pilek.

Atmo gelisah. Takut kalau Habib datang dan menagih upil. Dia khawatir tak dapat memenuhi kuota sehingga kontrak jual beli upil bisa diputus sepihak.

"Assalamualaikum.....mana upil yang ente kumpulin?" ujar Habib saat bertandang ke toko Atmo.
"Waalaikum salam.....sebentar ya ane ambilin," jawab Atmo. Dia mengambil kaleng kecil berisi upil.
"Ini Habib," ujar Atmo sambil menyodorkan kaleng.

Habib melihat kaleng itu. Terdiam sejenak, lalu merogoh kantong. Memberi tiga lembar seratus ribuan. "Ini ane tambahin fulus. Kumpulkan lagi yang banyak. Nanti ditambah lagi fulusnya\" ujar Habib sambil pergi.

Atmo girang. Gak nyangka diberi uang lagi meski upilnya terbilang sedikit. Semangat ngupil Atmo kian menjadi-jadi. Saat kalengnya sudah penuh upil, Habib belum datang lagi. Dia menunggu Habib untuk memberi bonus atas kerja kerasnya mengupil.

Suatu sore, Habib kedatangan teman lamanya, Krisna. "Bib, ente punya obat pinggang nggak. Pinggang ane pegel, kagak bisa kerja nih," keluh Krisna.

"Alhamdulillah, sudah rejeki ente. Ane baru saja dikirim obat encok dari Timur Tengah. Coba ente ambil ke Atmo. Bilang mau ambil kaleng titipan Habib," katanya pada Krisna.

Krisna beranjak ke toko Atmo. "Mo, ane mau ambil kaleng titipan Habib," ujarnya.

Atmo senang. Dia mengambil kaleng berisi upil itu. Diberikannya pada Krisna. "Bilang Habib, ane minta uang bonusnya," kata Atmo.

Krisna membawa kaleng itu ke rumah Habib lagi. "Ente tambahin minyak zaitun dua sendok. Oleskan ke pinggang pagi dan sore. Insya Allah encok ente akan ilang," ujarnya pada Krisna.

Aku yang duduk di sampin Habib heran. Dulu, dia bilang upil itu makanan jin. Kok sekarang jadi obat encok. "Bib, katanya itu makanan jin. Kok dikasih Krisna untuk obat encok?" tanyaku.

“Mana ada jin makan upil. Ngaco ente?" ujarnya terkekeh. Ternyata, aku salah. Jin tak doyan upil.
Ketika bingung soal makanan jin, aku melihat berita TV. Aak yang terkenal sebagai guru spiritual beberapa artis itu ditangkap polisi. Tapi, artis yang menjadi muridnya membantah isu kalau Aak suka makai narkoba. "Aak hanya memberikan aspat, bukan sabu," ujar seorang selebritis. Aspat adalah makanan jin. Memang, cara makainya sama dengan cara makai sabu.

Aku kembali bingung. Benarkah jin makan asap dari aspat? Mereka tidak doyan upil karena asam? Apa sih rasanya aspat?

Segudang pertanyaan terjawab beberapa hari kemudian ketika polisi memastikan aspat yang ada di tangan Aak adalah sabu. Jadi bukan makanan jin seperti bualan Aak.

Lalu, apa makanan jin yang sesungguhnya? Upil bukan, apalagi aspat. Apa benar mereka makan tulang dan kotoran seperti yang tertera di kitab suci agama?

Aku ingin bertemu Habib. Bertanya lagi apa makanan jin yang sesungguhnya. Biasanya dia cukup kreatif mencari jawaban.  Soal benar atau salah, bisa dikompromikan.


“Habib, di mana ente?"' ***

Thursday, 3 March 2016

Istri Budi

Ilustrasi: Bukalapak.com

Bukan aku saja, beberapa tetangga, juga heran dengan Windy. Wajahnya layak masuk televisi. Andai kulitnya terawat dan memakai baju bagus, orang akan mengira ia artis. Hanya nasib yang membawanya menjadi seorang tukang cuci dan istri Budi.

Budi bukanlah pria ganteng. Wajahnya standar, cenderung ke minimalis. Perawakannya kurus. Mungkin selagi muda belum seceking sekarang. Tetapi tetap tak ada tanda-tanda ia bertubuh atletis. Katanya, dulu ia pemain band. Pemain gitar andal.

Dia berhenti menjadi pemain band ketika mobil yang membawa rombongan untuk pentas terbalik dan masuk jurang. Beberapa temannya tewas, sementara Budi patah kaki. Akibatnya, ia sedikit pincang ketika berjalan.

Sejak itu Budi tak lagi menjadi gitaris. Dia beralih profesi menjadi pengamen bis dengan gitar kecil. Dia berangkat pagi hari, sekitar pukul 05:30 WIB dengan mengendarai motor. Sehabis mengantar Windy ke pabrik, dia mulai mengamen.

Namun, Budi terpaksa pensiun setelah penyakit asma menggerogotinya. Nafasnya sering tersengal-sengal dengan suara mengi. Kalau nafasnya normal, batuknya menjad-jadi. Batuk bersuara berat, seakan dahak yang ada di saluran pernafasan sulit keluar.

Kini, tugasnya hanya antar jemput istri ke pabrik. Sekitar jam 07:00 ia sudah di rumah. Sehabis mamarkir motor di ruang tamu, ia berganti celanda pendek. Berjemur di halaman rumah. Pagar pohon teh-tehan di rumahnya hanya semeter, sehingga kegiatan Budi di halaman itu terlihat oleh tetangga yang lewat.

Yang kadang membuat risih tetangga, dan tentu juga aku, adalah kebiasaannya setelah berjemur yaitu menonton televisi hanya dengan memakai celana dalam. Jika celana pendek Budi masih berwarna-warna, tidak halnya dengan celana dalam. Budi selalu memakai celana dalam warna cokelat.

Warna yang membuat aku cukup bingung. Budi jarang memakai celana atau baju warna coklat. Cat rumahnya putih dengan aksen biru. Motornya berwarna hitam dengan stiker merah. Tak ada unsur coklat. Helmnya juga berwarna hitam. Entah mengapa dia begitu cinta dengan celana dalam warna coklat. Atau, jangan-jangan, coklat bisa 'menutupi' kotor sehingga ketika dua atau tiga hari tidak dicuci tak akan terlihat. Ingat, ini hanya prasangka buruk saja. Belum tentu benar, tetapi belum tentu salah juga.
                                                                         ***                     
Pagi itu Budi tak mengantar istrinya kerja. Penyakit asmanya kambuh. Windy diantar tukang ojek. Budi tak bisa berjemur di halaman rumah. Juga tak menonton televisi dengan kostum celana dalam coklat. Dia terbaring di kamar dengan nafas tersengal-sengal.

Dengus nafasnya terdengar sampai depan rumah. Aku iba, membayangkan sakit dadanya saat bersusah payah menghirup udara. Meski pintunya tertutup, aku tahu, pintu itu tak berkunci. Hanya diganjal batu. Kudorong pelan dan pintu terbuka. Aku menerobos masuk ke kamar.

Budi nungging di atas kasur. Tangannya memukul-mukul bantal sambil berteriak. Mengaduh kesakitan. "Pak Budi!" ujarku setengah berteriak. Dia menoleh, memandangku dan kembali tangannya memukul-mukul bantal.

"Obat asmanya di mana? Saya ambilkan!" sergahku. Budi menggelengkan kepala sambil memberi tanda jika dia sudah tak memiliki obat lagi. Sepertinya dia enggan bicara karena menahan rasa sakit di dada. "Obatnya habis?” Tanyaku lagi. Budi mengangguk pelan.

Aku keluar. Balik ke rumah. Mencari persediaan obat asma. Karena si sulung juga memiliki penyakit ini, aku siap dengan nebulizer, obat semprot dan pil untuk melegakan pernapasan.

Apes, obat untuk inhalasi dan pil sedang habis. Sementara, obat semprot belum ketemu. Biasanya dibawa si sulung, untuk berjaga-jaga. Aku tak menyerah, kucari di kamar si sulung, siapa tahu hari ini obat itu ditinggal di rumah. Alhamdulillah, ada obat semprot lama yang masih tersisa sedikit. Bergegas, aku menuju kamar Budi. Tanpa bicara sepatah kata pun, aku semprotkan obat itu ke mulutnya. Tiga semprotan.

Aku duduk di samping Budi yang masih mengerang. Terdiam, menunggu reaksi obat. Sempat terbayang, seandainya Budi memiliki anak, tentu dia bisa membantu di saat ayahnya dalam kesulitan seperti ini. Tapi faktanya, Budi dan Windy, tak memiliki anak. Mereka hanya hidup berdua.

Apesnya lagi, hubungan dengan tetangga tak semanis madu. Mereka tertutup. Tak pernah ikut kegiatan sosial, kerja bakti, mapun hadir di masjid dalam ritual keagamaan. Mereka merasa nyaman dengan kesendiriannya. Beruntung, sebulan terakkhir tabiat kurang menyenangkan itu perlahan-lahan memudar.

Budi mulai menyapa tetangga. Pernah ikut kerja bakti membersihkan jalan di depan rumahnya. Istrinya mulai bertegur sapa. Sejatinya, istri Budi adalah wanita ramah. Keenggenannya bertegur sapa karena takut akan amarah Budi. Menurut dongeng, saat muda Windy pernah berselingkuh dengan brondong alias anak baru gede (ABG). Sejak itu, Budi melarang Windy bergaul. Dengan siapa pun.

Perubahan sikap Budi dan Windy itu yang membuat tetangga iba ketika asma Budi kambuh. Meski sebenarnya pagi itu aku harus buru-buru ke kantor karena pekerjaan menumpuk, namun aku tak tega mendengar Budi mengerang, menahan sakit. Semprotan tiga kali ke rongga mulut Budi bisa meredakan sakitnya.
                                                                          ***   
Setelah Budi diam karena sesak napasnya berkurang, aku balik ke rumah. Bersiap-siap ke kantor. Ini hari Senin. Tak elok jika datang terlambat. Apalagi, alasannya membantu tetangga sakit. Tak profesional dan terkesan mengada-ada.

Aku masuk ke kamar mandi dengan riang gembira. Tak lagi mendengar erangan orang sakit. Bagiku, kamar mandi adalah tempat ternyaman untuk 'merenung.' Dari sinilah kadang muncul ide brilian, judul berita menarik atau lead sebuah berita. Ide-ide itu biasanya muncul saat buang hajat atau mandi di bawah shower dengan air dingin yang perlahan-lahan mengucur ke atas kepala. Tetesan-tetasan air itu bagai pintu pembuka kreativitas. Di kamar mandi inilah aku membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Untung, pagi itu semua anggota keluarga sudah berangkat, mengurus kepentingan mereka sendiri. Tak ada yang mengusikku. Setelah membasuh seluruh badan, giliran air mengucur ke kepala. Momen yang menyenangkan. Rambut super tipis membuat siraman air itu begitu terasa di batok kepala. Dingin-dingin menyegarkan. Menikmati kucuran air dingin itu, aku memikirkan lead berita mengenai museum perdamaian di Prefektur Okinawa. Bagaimana orang sadar bahwa perang hanya akan membawa penderitaan bagi masyarakat.

Di saat renungan itu belum membuahkan hasil, bel rumah berbunyi nyaring. Dipencet berulang-ulang membuatku kesal. Segera aku mengambil handuk, mengeringkan badan, berganti celana pendek dan kaos, lalu keluar rumah.

"Pak, Budi kambuh lagi,' ujar Rini, tetangga sebelahku. Meski kesal karena bakal terlambat ke kantor lagi, aku masuk ke rumah Budi. Kali ini tak ada pilihan lain, harus memboyong Budi ke rumah sakit. Dan perlu diketahui, birokasi ke rumah sakit pemerintah di negeri ini, sungguh berbelit. Harus ada rujukan dari puskesmas atau klinik kelas satu. Padahal, belum tentu mendapat tempat tidur sesuai yang diinginkan. Dan untuk urusan ini, tidak mungkin aku yang mengurusnya.

Aku memutuskan untuk menelepon Windy, istri Budi. Bertanya pada Budi, rasanya tak mungkin. Nafasnya terengah-engah. Aku ambil HP di dekat kepala Budi yang berbaring. Kubuka phone book, mencari-cari nama Windy. Tak ada. Lalu kuganti dengan kata mama, ibu, bunda sampai umi. Nihil juga.

Setengah jengkel, HP itu aku dekatkan wajah Budi. "Mana nomor HP istri sampeyan?" Dengan susah payah, Budi mencari daftar nama di phone book sesuai abjad. Dia menaikkan krusor, dari W ke atas sampai ke huruf J. Budi menunjuk kata Jembut. Ya, ia memanggil istrinya dengan kata itu. Istri yang selama ini menafkahi hidupnya, merawat dari sakit serta menjaga agar ia tetap sehat disamakan dengan rambut kemaluan. Sebuah ironi di pagi hari.

Niatku menelepon Windy mulai kendor. Sempat berpikir, biarkan saja pria ini meninggal perlahan-lahan, menebus dosa pada istrinya yang sudah bertumpuk selama bertahun-tahun. Namun, rasa kemanusiaanku terusik melihat derita Budi yang ada di depan mata. Aku menelepon Windy, memberi tahu kondisi suaminya.

Kutinggalkan kunci mobil pada Rini seraya berpesan agar mencari tetangga yang bisa menyetir untuk mengantar Budi sampai ia mendapatkan rumah sakit. Aku berangkat ke kantor dengan kata jembut terngiang-ngiang di telinga. Kupret!!! * (Ditulis dari 8 Desember 2016 sampai 2 Maret 2017, sebuah cerita yang tertunda)

Bukan Hitam Putih

  Michelin adalah perusahaan ban asal Prancis. Ketika penjualan ban melempem, sekitar 1900-an, mereka malah menerbitkan buku panduan restor...