Pagi ini, istri saya telepon, mengabarkan kalau terjadi gangguan sinyal pada commuter line (KRL). Ini adalah 'protes' lembut pada saya karena sejak seminggu lalu saya memaksanya untuk naik KRL.
Sebelumnya, saya selalu mengantarnya ke kantor di Pasar
Minggu dengan mobil. Belakangan, ketika jumlah KRL bertambah, baik gerbong
maupun volume perjalanannya, jarak tempuh Depok-Pasar Minggu yang berjarak 19
km menjadi dua jam. Ditambah perjalanan pulang ke Depok, hampir 3 jam saya uji
kesabaran di ruwetnya jalan ibukota.
Jarak tempuh 10 km per jam ini, masih terbilang lancar jika
dibandingkan dengan jarak tempuh di jalan protokol semisal Jalan Jenderal
Sudirman, Jalan Gatot Subroto maupun Jalan MH Thamrin. Ketua Dewan Transportasi
Kota Jakarta (DTKJ) Edi Nursalam pada pertengahan 2014 mengatakan, dari hasil
pengamatannya, kecepatan rata-rata kendaraan bermotor roda empat atau mobil di
beberapa ruas jalan raya bisa mencapai 10 km/jam. Empat tahun kemudian, kecepatannya
hanya 5 km/jam. Berapa kecepatan pada 2016? Tanyakan pada Duo Serigala yang
bergoyang!
Atas dasar itu, saya memaksa istri untuk berganti moda
transportasi yang lebih cepat. Dengan KRL, dia hanya butuh waktu 30 menit untuk
sampai stasiun Pasar Minggu dan 5 menit untuk naik ojek dari pengkolan ke
kantor. Baru seminggu, dia dua kali merasakan gangguan sinyal yang berujung
pada keterlambatan. Padahal dia sudah rela berdesak-desakan, sesuatu yang
jarang dirasakan selama puluhan tahun bekerja.
Saya yang sudah 1,5 tahun menjadi pelanggan setia KRL
beberapa kali mengalamai gangguan sinyal ini. Beruntung (sebagai orang Jawa
tulen) jam kerja saya tidak ketat sehingga keterlambatan tak dicatat, apalagi
dipotong uang transportnya. Namun belakangan ini gangguan sinyal kian terasa.
Kereta dari Stasiun Sudirman-Manggarai bisa antre 15-20 menit. Itu hampir
terjadi setiap hari. Akankah kereta ngantre ini akan makin lama dari waktu ke
waktu?
Alat Uzur dan
Pencurian
Gangguan sinyal adalah hal biasa, seperti hanya banjir yang
melanda perkampungan di pinggir kali Ciliwung. Penyebab gangguan bisa
bermacam-macam. Tri Handoyo pada April 2014 saat menjabat Direktur Utama PT KAI
Commuter Jabodetabek (KCJ) mengakui, banyak permasalahan yang terjadi dalam layanan
kereta rel listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek.
Permasalahan tersebut meliputi seringnya gangguan sinyal dan
jarak kedatangan antar-kereta di stasiun headway yang kurang cepat.
Dia menjelaskan, dua hal itu terjadi karena alat persinyalan sudah tua,
dan masih bercampurnya jalur KRL dengan jalur kereta jarak jauh, baik kereta
penumpang maupun kereta barang.
"Problem di KRL sangat kompleks, umur alat
persinyalannya sudah lama. Track yang dipakai juga bersama," kata Tri, di
Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, kepada Kompas. Menurut Tri, pergantian alat
sudah seharusnya dilakukan tetapi membutuhkan biaya besar.
Ia menjelaskan, alat persinyalan untuk jalur Jakarta-Bogor
sebenarnya sudah harus diganti, mengingat jalur tersebut paling sering
mengalami gangguan persinyalan. "Alat sinyalnya sudah tua, geledek sedikit
langsung mati. Jadi memang perlu pergantian. Cuma, butuh pendanaan besar. Jadi,
kita akan melakukannya secara pelan-pelan," ujarnya.
Penyebab lain adalah pencurian. Viva pernah menulis
komplotan pencuri kabel signal KRL Jabodetabek yang diungkap oleh Polres
Metro Jakarta Selatan sepanjang 14 meter di KM 22+ 400/500 di antara stasiun Tanjung
Barat dengan stasiun Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Modus operasi yang dilakukan oleh pelaku yakni dengan
memotong kabel menggunakan gergaji besi. Setelah putus, kabel digali dengan
tangan kemudian ditarik lalu dimasukkan ke karung selanjutnya dikelupas lalu
dijual. "Pelaku sudah melakukan aksinya sebanyak 13 kali sejak tahun 2014,"
ujar Wakapolres Jakarta Selatan, AKBP Surawan, Selasa, 19 Mei 2015.
Surawan menerangkan, akibat pencurian kabel signal kereta
api KRL ini, bisa mengganggu signal kereta dan juga mengganggu terbukanya
palang pintu penyeberangan lintasan kereta secara otomatis.
Solusi
Kalau sudah jelas penyebabnya, mengapa hingga kini belum
juga diperbaiki. Tri Handoyo lengser 3 Februari 2015 dan digantikan oleh
Muhammad Nurul Fadhil sebagai Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek
(KCJ). Fadhil yang semestinya memperbaiki kondisi ini.
Untuk problem pertama, soal alat dan track, KCJ tak bisa
menyelesaikan sendiri. Ini harus ada goodwill dari pemerintah untuk mengganti
alat persinyalan yang sudah uzur. Memang, bukan biaya kecil. Tetapi ini
menyangkut hajat hidup orang banyak.
"Pada awal tahun ini, range penumpang kami di kisaran
690 hingga 720 ribu per harinya. Lalu meningkat lagi menjadi 850 ribu penumpang
per harinya dan sempat mengalami rekor baru sebanyak 914,84 ribu penumpang per
harinya. Tampaknya, kita akan bisa meraih 1,2 juta penumpang pada 2018, atau
lebih cepat setahun dibanding target awal kita," ujar M Fadhil di Jakarta,
Jumat (4/9/2015) kepada CNN.
Jika kereta mengalami gangguan sinyal, dan separo penumpang
membawa kendaraan sendiri, mampukah jalan raya menampunynya? Jam 10.30 WIB,
ketika sinyal KRL sudah pulih, jalan dari Depok menuju Pasar Minggu masih padat
layaknya jam 07.00. Belum lagi berapa pemborosan bahan bakar yang terjadi
tatkala semua membawa kendaraan dan jalanan macet parah. Plus polusi yang
menjadi-jadi.
Persoalan kedua, soal pencurian kabel, tak boleh dianggap
sepele. Kalau dalam setahun bisa mencuri 13 kali, berarti setiap bulan terjadi
gangguan sinyal akibat ulah pencoleng. Polisi harus bertindak tegas terhadap
pelaku dan menjaga fasilitas negara dari tangan jahil. Tentunya, KCJ haru
proaktif, mengingatkan aparat agar jangan lengah terhadap pencurian.
Upaya KCJ dengan memagari rel dengan pagar besi adalah
langkah riil untuk mengurangi pencurian tersebut. Selain pagar, sebaiknya KCJ
juga membuat jembatan penyeberangan agar siapa pun tidak bisa masuk ke jalur
kereta yang bisa berpotensi melakukan tindakan yang merugikan. (*)
No comments:
Post a Comment